<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361</id><updated>2011-07-28T20:01:30.005-07:00</updated><category term='resensi'/><category term='islam'/><category term='novel'/><category term='ketika cinta bertasbih'/><category term='artikel'/><category term='hikmah'/><title type='text'>MENUJU BENING HATI ...</title><subtitle type='html'>Satu kata, rangkai makna menuju pribadi jiwa sang hamba ...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-4016613379058522573</id><published>2010-01-03T23:42:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T23:42:47.223-08:00</updated><title type='text'>http://dik2.multiply.com/</title><content type='html'>&lt;a href="http://dik2.multiply.com/"&gt;http://dik2.multiply.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-4016613379058522573?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://dik2.multiply.com/' title='http://dik2.multiply.com/'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/4016613379058522573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=4016613379058522573' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/4016613379058522573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/4016613379058522573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2010/01/httpdik2multiplycom.html' title='http://dik2.multiply.com/'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-921157552782425150</id><published>2009-01-06T19:20:00.001-08:00</published><updated>2009-01-06T19:22:37.953-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ketika cinta bertasbih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>Ketika Cinta Bertasbih 2</title><content type='html'>Resensi Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dengan penuturan tentang keindahan suasana dini hari di Pesantren Darul Quran, Kang Abik berhasil mengajak pembacanya untuk seakan memasuki satu demi satu alur cerita di bagian kedua dari karya dwilogi Pembangun Jiwa-nya "Ketika cinta Bertasbih" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran seorang gadis jelita dengan kekhusyuan ibadahnya di sepertiga malam terakhir itu, telah memperkuat karakter ia, seorang mahasiswi terbaik di Al Azhar University, ialah Anna Althafunnisaa. Seorang putri dari Kiai Lutfi pemilik pondok pesantren Daarul Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah berlanjut dengan pemaparan suasana kegundahan hati seorang master lulusan terbaik pula dari Universitas tertua di dunia itu. Furqan. Tentunya kita masih ingat ia ketika disaat-saat kebahagiaan ia akan keberhasilannya meraih gelar master, ia juga harus rela menyandang predikat sebagai pengidap HIV di Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan hati itu terus berlanjut walaupun sampai ketika Anna menerima pinangannya dari Furqan. Ia bagai berada di ujung sebuah tebing kebimbangan, antara meneruskan ke jenjang pernikahan atau membatalkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, pil pahit harus ditelan oleh banyak dari para pria yang selama ini menaruh hati pada Anna Althafunnisaa. Tak terkecuali Khairul Azzam, seorang mahasiswa Al Azhar yang baru dapat menyelesaikan kuliahnya setelah hampir 9 tahun lamanya ia berada di negeri para nabi itu. Pada bagian kedua karya dwilogi ini diceritakan tentang kepulangan Azzam yang disambut bahagia oleh keluarganya. Banyak perubahan yang terjadi pada kehidupan keluarga Azzam jika dibandingkan dengan kehidupan 9 tahun yang lalu sebelum ia berangkat menunaikan cita-cita. Salah seorang adiknya yaitu Ayatul Husna kini telah menjadi seorang cerpenis remaja yang mendapatkan penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan tokoh-tokoh sebelumnya di KCB 1, serta hadirnya tokoh-tokoh baru di KCB 2 semakin membuat karya ini terasa begitu wah. Bahkan menurut saya pribadi jika dibandingkan dengan KCB 1, KCB 2 ini jauh lebih bagus dalam segi penuturan kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa cerita yang telah usai di KCB 1 dan tidak sedikitpun tertulis kembali di KCB 2, seperti halnya kisah kekecewaan Fadhil ketika seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, yang ia pernah harapkan dapat menjadi belahan jiwanya ternyata menikah dengan sahabatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik tajam terjadi pada beberapa bagian dari novel ini, diantaranya pada shubuh hari ketika terjadi keributan di rumah Azzam, disana diceritakan tentang seorang paman yang akan menembak dan membunuh keponakannya sendiri. Kemudian klimaks cerita ini terjadi ketika terjadi kecelakaan dimana yang menjadi korbannya adalah Azzam dan Ibunya, mereka terpelanting jatuh dari atas sepeda motor karena tertabrak bus yang ugal-ugalan, sampai akhirnya Azzam harus rela berbaring di rumah sakit menderita patah tulang, sementara ibunya berpulang menghadap ke hadirat Alloh SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada raut kesedihan disana, padahal saat musibah itu terjadi adalah hanya berselang 4 hari sebelum pesta pernikahan Azzam dengan seorang dokter dari Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kisah yang terjadi secara tiba-tiba diluar dugaan para pembaca. Namun secara keseluruhan, kesinambungan cerita dari satu tokoh yang ditampilkan dengan tokoh lain di bagian lainnya, masih tetap menjadi satu ciri khas dari karya-karya kang abik, yang mampu membuat decak kagum para pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari kuatnya alur serta penokohan dalam KCB 2 ini, kang abik juga masih terlalu lihai menceritakan keseharian dalam kehidupan pesantren, tentunya ini mungkin karena sesuai dengan latar dari kehidupan kang abik itu sendiri. Kemudian, satu persatu keilmuan tentang fiqih, aqidah, dan lain sebagainya tetap menjadi suguhan utama yang beliau munculkan dalam bagian cerita ini, tanpa sedikitpun membuat para pembaca merasa digurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya kisah cinta, nilai-nilai semangat wirausaha atau jiwa entrepreneurship yang dimiliki Azzam, masih berlanjut di KCB 2. Bahkan nilai inovatif serta kerja kerasnya telah mengantarkan ia menjadi salah satu pengusaha muda dari kota Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibandingkan dengan bagian sebelumnya, KCB 2 ini memang jauh lebih diperuntukkan bagi kalangan dewasa. Keromantisan sebuah pasangan suami istri dimunculkan melebihi apa yang pernah muncul di Ayat-ayat Cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun alhamdulillah, akhirnya semua berlalu dan berakhir pada satu hal yang justru jauh tidak terbayangkan sebelumnya. Satu kisah cinta Khairul Azzam dengan Anna Althafunnisaa menutup akhir cerita ini dengan manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kisah ini kembali menjadi satu jalan kebangkitan ummat untuk kembali mengenal kemuliaan Islam. Aamiin yaa Robbal'alamiin ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-921157552782425150?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/921157552782425150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=921157552782425150' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/921157552782425150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/921157552782425150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2009/01/ketika-cinta-bertasbih-2.html' title='Ketika Cinta Bertasbih 2'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-6755194102485613345</id><published>2009-01-06T18:28:00.001-08:00</published><updated>2009-01-06T18:28:29.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Saatnya Menjadi Bagian Dari Orang-orang Aneh</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda membayangkan sebuah tempat nyaman di ibu kota ini, dimana disana penuh dengan kesejukan, bertaburan dengan wewangian serta sarat akan alunan-alunan nyanyian, maka sebuah bangunan megah yang belakangan ini semakin semarak saja di kota Jakarta ini adalah menjadi salah satu jawabannya. Pusat perbelanjaan yang seakan-akan menjelma sebagai sebuah mesin baja yang lambat laun bisa menggilas sektor perekonomian masyarakat kecil di pasar-pasar tradisonal ini memang semakin menjamur saja keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang kini memilih tempat itu sebagai sarana pemenuhan kebutuhannya. Seperti juga sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jam digital yang melekat dilengan ini hampir saja bertambat di angka tiga. Matahari memang sudah mulai condong ke arah barat sejak beberapa saat yang lalu. Riuh para pengunjung seakan melengkapai ramainya suasana di pusat-pusat perbelanjaan ibu kota biasanya. Apalagi seperti menjelang akhir pekan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengunjungi sebuah toko buku yang letaknya berada di lantai dasar pusat perbelanjaan itu memang mengharuskan kami untuk bergabung bersama mereka. Merasakan degup-degupnya musik dan nyanyian didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi menarik adalah ketika kami selesai dari toko buku itu. Ketika kami memutuskan untuk melaksanakan sholat ashar dulu, karena daripada mencari mesjid di luar sana yang pastinya akan memakan banyak waktu lagi, maka kami memilih untuk menanyakan keberadaan mushola di pusat perbelanjaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kami mengitarkan pandang ke hampir seluruh penjurunya. Namun satupun tak kami dapati tulisan penunjuk yang menunjukkan keberadaan mushola itu. Akhirnya kami coba mendekati seorang petugas security untuk menanyakan keberadaan mushola itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada di lantai 4 mas", ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja kami bergegas menuju sana. Lift yang biasanya penuh sesak, mengharuskan kami untuk berpindah untuk lebih baik menggunakan escalator saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana kami kembali mengelilingkan mata kami untuk mencari keberadaannya. Namun tetap nihil. Sampai akhirnya setelah kami berkeliling dan bertanya kesana kemari, tempat itupun kami temui. Sebuah tempat berupa ruangan kumuh dengan ukuran tidak lebih dari 3 x 3 meter, serta cat-catnya yang mulai mengelupas. Dan letaknyapun berada dipinggir lahan parkir, serta hanya bisa ditemui setelah kita keluar arah dengan mengikuti penunjuk jalan yang bertuliskan "E X I T" dari bagian dalam pusat perbelanjaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhhhhhh ...."&lt;br /&gt;Kami menarik nafas panjang saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh ..., jauuh sekali jika dibandingkan dengan ruangan-ruangan yang baru saja kami lewati. Dimana disana kenyamanan bagaikan surga dunia menjelma, namun ternyata di sebuah tempat yang justru mereka katakan sebagai sebuah mushola ini ternyata kondisinya sangat amat jauh berbeda sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lembar sajadah lusuh yang berada disana serta lembar-lembar mukena dan kain sarung yang ada disana pun warnanya sudah memudar menghiasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kamipun menunaikan ashar disana. Selalu ada keharuan dan kekaguman ketika ternyata tidak hanya kami yang berada disana saat itu. Ada beberapa saudara-saudara muslim lainnya yang juga telah menunggu giliran untuk melaksanakan sholat disana. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alhamdulillah&lt;/span&gt;, setidaknya masih ada ummat-Mu yang merindukan kehadiran tempat ini untuk bermunajat pada-Mu yaa Rabb ...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jujur, masih terbayang saat-saat kami menanyakan keberadaan mushola itu beberapa saat sebelumnya. Beberapa orang terlihat sepertinya memicingkan matanya ke arah kami. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam&lt;/span&gt;, mungkin entah aneh atau apa yang jelas itu membuat kami merasa lucu dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar, mungkin kiamat semakin dekat. Banyak hal-hal yang dulunya biasa sekarang dianggap menjadi sesuatu yang aneh dirasakannya. Seperti halnya keinginan untuk menunaikan kewajiban sholat waktu itu. Sebaliknya banyak hal-hal yang dulu dianggap aneh tapi kini ternyata malah dianggap seakan biasa saja, seperti halnya mengenakan pakaian yang serba minim, mengubar aurat dimana-mana bahkan dari pakaian-pakaian mereka penuh robekan dan tambalan disana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, yang jelas, mari saatnya kita beramai-ramai menjadi bagian dari orang-orang aneh disini. Dimana kita masih bangga untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai ummat yang mengharap ridha dan rahmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab ...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-6755194102485613345?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/6755194102485613345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=6755194102485613345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/6755194102485613345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/6755194102485613345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2009/01/saatnya-menjadi-bagian-dari-orang-orang.html' title='Saatnya Menjadi Bagian Dari Orang-orang Aneh'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-7799241108214476119</id><published>2009-01-06T18:21:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T18:27:50.755-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Seruan Dakwah di Ribuan Menara Ibu Kota</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang mungkin seharusnya hanya ada satu jawaban untuk kita kemukakan, ketika sebuah pertanyaan menggantung dalam benak dan pikiran kita. "Haruskah kita berhenti berharap untuk bisa membentangkan kembali panji-panji Islam di muka bumi ini?". Dan jawaban itu adalah tentunya, "T I D A K".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dibuat tertegun saat itu. Mencoba memutar balik segala ingatan tentang semua ini. Dimana berbagai ujian dan cobaan menghadang perjalanan panjang perjuangan ummat Islam untuk kembali meneriakan takbir tanda kejayaan Islam. Beribu tanda tanya segera seakan menyergap dan membantah di benak kami, "Bukankah telah banyak bukti akan kehancuran ummat ini?" lalu "Bukankah pula sudah terlalu banyak kemerosotan akhlak terjadi disana-sini?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika memang seperti itu, masihkah ada celah kecil untuk Islam mengorek kembali hingga akhirnya memungkinkan untuk seakan menjadikan terbukanya kembali sebuah pintu untuk menghadirkan kejayaan Islam terlahir kembali?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menarik nafas panjang saat itu. Lantai ke 52 yang digunakan untuk khusus pelaksanaan sholat jumat di sebuah gedung megah di ibu kota itu tampak semakin hening. Sang khatib masih berdiri di depan para jamaah jumat. Sepi, bahkan layaknya sebuah tempat yang tak berpenghuni kini tempat itu menjelma. Para jamaah dibuat berpikir keras untuk memahami semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saudaraku. ... tentunya masih ada harapan untuk semua itu".&lt;br /&gt;"Bahkan insyaAlloh, akan terus ada dan tak akan pernah hilang, sebelum Alloh mengakhiri segala babak di dunia yang fana ini ...", lanjut sang khatib menyisir kembali isi khutbahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernahkah kita membayangkan sepuluh tahun yang lalu, atau mungkin dua puluh tahun yang lalu, bahwa saat ini, detik ini, berpuluh, beratus, bahkan beribu jamaah akan membentangkan sajadah-sajadah panjangnya untuk menghadap Ia sang Rabb pencipta. Atau mungkin berpuluh, beratus, bahkan beribu jamaah akan dengan setia penuh penghambaan menengadahkan tangannya untuk meminta segala harap dan memanjatkan selaksa do'a di lebih dari ratusan menara yang kini hadir di ibu kota ini, seruan-seruan adzan hadir bukan hanya dari menara-menara mesjid namun juga dari menara-menara gedung perkantoran kita?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangkitlah saudaraku ...!"&lt;br /&gt;"Percayalah Alloh masih bersama kita, janganlah cepat berputus asa".&lt;br /&gt;"Bukankah dibalik setiap kesulitan maka akan selalu hadir kemudahan daripadanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah jumat siang itu seakan menyadarkan kami kembali akan makna kepercayaan diri ummat ini. Bukan untuk menyerah begitu saja, namun yang jelas, yang terpenting adalah seberapa jauh dan seberapa besar usaha serta upaya kita dalam berperan serta menegakkan kembali kalimah thayyibah di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan cerita ibu-ibu guru di madrasah dulu, yang menceritakan begitu sulitnya dulu mereka untuk mendapatkan sebuah izin saja ketika ingin mengenakan sebuah kain kecil penutup kepala sebagai tanda akan bukti penghambaan mereka sebagai kaum hawa. Dan lihatlah kini, bukankah kini tdak hanya sekedar kain kecil, andaikan mereka menginginkan sebuah jilbab panjang nan lebar untuk melekat menutup rapi rambut-nya hingga ke sebagian tubuhnya, maka itu menjadikannya bukanlah sesuatu yang mustahil kini?. Tak ada lagi larangan daripadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin cerita kakek-kakek dulu ketika terpaksa harus berangkat ke mesjid dengan diiringi puluhan corong pistol yang siap mengantarkan peluru-pelurunya bakan sewaktu - waktu bisa saja menembus hingga kesela-sela otak. Dan kini semua itu telah hilang bahkan lenyap. Berganti dengan gemuruhnya suara-suara adzan ketika waktu-waktu sholat tiba. Beganti dengan berkibar-kibarnya jilbab-jilbab lebar dari saudari-saudari kita. Bahkan berganti dengan semaraknya seruan-seruan dakwah dari pelbagai penjuru menara kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya semua ini akan sangat kecil sekali terpikir ketika sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Namun, alhamdulillah ternyata disini Alloh menunjukkan kuasa-Nya. Tak ada yang tak mungkin bagi Ia perkenankan. Tak ada yang sulit bagi Ia pertunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;InsyaAlloh selama kita berusaha untuk semakin dekat dengan-Nya, maka Ia-pun akan senatiasa semakin dekat bersama menuntun dan membimbing kita. Menapaki hari-hari menuju ridha dan rahmat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkitlah, karena harapan itu masih ada ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-7799241108214476119?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/7799241108214476119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=7799241108214476119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/7799241108214476119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/7799241108214476119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2009/01/seruan-dakwah-di-ribuan-menara-ibu-kota.html' title='Seruan Dakwah di Ribuan Menara Ibu Kota'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-615107970295249615</id><published>2009-01-06T18:12:00.002-08:00</published><updated>2009-01-06T18:13:24.842-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tak Ada Alasan Untuk Mengalah</title><content type='html'>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirramhaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin yang menyergap ditengah pusaran kota intan telah mengantarkan waktu menuju hampir di tengah hari. Suasana riuh kehidupan kini perlahan menyurut di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sayyidulayyam &lt;/span&gt;itu. Para pedagang yang beberapa waktu lalu masih bergelut dengan sejuta aktifitasnya kini mulai meninggalkan lapak-lapaknya. Jalanan kini mulai terasa lenggang. Hanya beberapa saja orang yang berada disana untuk segera berjalan menuju ke arah masjid raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi kini beda antara pakaian atau penampilan mereka, yang ada hanya satu yaitu seberapa besar tekad dan kuatnya langkah mereka untuk menggapai hidayah di satu titik suci di tengah peradaban kota. Tak ada langkah-langkah gontai mereka, yang ada dari mereka hanyalah berebut sambil hampir berlari menuju satu titik saja. Disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku berada diantara mereka saat itu. Sampai akhirnya kami temui pancuran-pancuran sejuknya air wudhu di salah satu koridor masjid itu. Jauh disebelah sana sandal-sandal berjejer rapi ditepiannya. Wajah-wajah basah yang kini terpampang hampir di seluruh jamaah semakin membuatku tenteram berada diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin masih berhembus, dan udarapun tak lelah mengelus sejuknya suasana kota. Setelah kutunaikan dua raka'at tahiyatul masjid, segera kurapatkan barisan, bersama dengan mereka disana. Disudut sana sekelompok remaja segera melakukan hal yang sama, menunaikan takbiratul ihram, dan memantapkan pandang mereka untuk hanya menghadap kepada-Nya. Dilain shaf, seorang bapak tua masih tetap khusyuk menunaikan dzikirnya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Alhamdulillah ..."&lt;/span&gt;, gumamku&lt;br /&gt;Ada satu rasa tenang yang terpancar dalam dada ini, ketika mendapati orang-orang masih setia untuk berlomba meneguhkan hati dan jiwanya, menghadapkan raganya, hanya untuk Ia sang maha pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pandangku seakan berubah. Semilir yang sejak tadi menemani hari, kini seakan berubah menjadi deru panasnya suasana di jazirah sana. Puluhan para sahabat seakan tak berhenti berlomba untuk menunjukkan penghambaan terbaiknya saat itu. Ada yang sibuk dengan sunnah-sunnahnya, ada yang sibuk dengan dzikir-dzikir lembutnya, bahkan diantara mereka ada pula yang sibuk berdiskusi memecahkan permasalahan ummat diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb ...&lt;br /&gt;Nikmat sekali berada disana. Masih terbayang risalah ketika ia sang Rasul Alloh menanyakan siapakah di hari itu yang telah berbuat kebajikan. Para sahabat berebut mengacungkan tangannya, pertanda mereka telah melaksanakannya. Masih terbayang ketika ia sang Rasul Alloh menanyakan siapa yang hari itu tengah melaksanakan puasa sunnah. Para sahabat berebut mengacungkan tangannya, pertanda mereka tengah melaksanakannya. Masih terbayang ketika ia sang Rasul Alloh menanyakan siapa yang hari itu telah mendermakan sebagian hartanya untuk ia sedekahkan di jalan Alloh. Para sahabatpun ternyata berebut mengacungkan tangannya, pertanda mereka telah menunaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Subhanalloh ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Fastabiqul khairaat, Fastabiqul khairaat ...."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berlombalah dalam kebaikan ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dingin telah kembali menyergap suasana. Menambah dinginnya diri yang seakan harus kembali malu atas segala khilaf selama ini. Telah banyak bahkan tak jarang kita senantiasa membiarkan diri untuk bergelut tanpa menyerah dalam persaingan duniawi, namun untuk kepentingan ukhrawi kita? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astaghfirullahaladzim ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seakan berhenti ketika ada orang lain yang akan berbuat kebaikan. Berhenti dengan mengucap, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tafadhol ya akhi ..."&lt;/span&gt;, mempersilakan orang lain untuk memulai mendulang pahala itu, tanpa kita seharusnya berlomba untuk melakukan hal yang sama atau kebaikan lainnya. Padahal mungkin semestinya, tak ada alasan untuk kita mengalah dalam setiap berlomba berbuat kebaikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb,&lt;br /&gt;Ampunkan diri ini atas kelalaiannya. Ampunkan hati ini atas kekotorannya. Izinkan diri ini untuk senantiasa dapat mempersembahkan yang terbaik untuk-Mu. Tuntunlah langkah ini agar senantiasa bersama Rahman dan Rahiim-Mu. Kuatkanlah jiwa ini untuk selamanya terjauh dari secuilpun dosa dan maksiat yang dapat menjerumuskan kami kedalam neraka-Mu. Dan sampaikanlah kami untuk senantiasa berada bersama hamba-hamba terbaik-Mu, yang akan memacu semangat untuk beribadah kepada-Mu dan mengantarkan kami hingga nantinya bersama berada di Surga-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aamiin yaa Robbal'alamiin ...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-615107970295249615?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/615107970295249615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=615107970295249615' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/615107970295249615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/615107970295249615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2009/01/tak-ada-alasan-untuk-mengalah.html' title='Tak Ada Alasan Untuk Mengalah'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-2760303888384073255</id><published>2009-01-06T18:12:00.001-08:00</published><updated>2009-01-06T18:12:42.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Ia, dan Ridha-Nya</title><content type='html'>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati suasana pagi di area pasar tradisional di kota besarpun ternyata tak ubahnya seperti di pasar-pasar tradisional di daerah pada umumnya. Puluhan pedagang tumpah ruah ke hampir seluruh pinggiran jalan di sekitarnya. Mereka berlomba mengais rezeki untuk dapat menyempurnakan ikhtiar dalam menyambung hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan mata lelah masih tetap terjaga setelah jauh-jauh waktu semenjak dari sebelum shubuh tadi mereka sudah berada disana. Puluhan tubuh-tubuh layu masih berdiri bagaikan pagar yang membentuk barisan untuk bersiap menyambut datangnya para pembeli. Bahkan puluhan bibir-bibir kaku yang seharusnya tengah berada diantara hangatnya minuman-minuman pelepas dinginnya suasana, kini ternyata malah berlomba berteriak memanggil datangnya mereka untuk hanya sekedar menjajakkan barang-barang dagangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu, rasa lelah dan letih dari mereka telah mengantarkan pada satu jalan hidup. Yang akan menghiasi perjalanan panjang dalam menuju kehidupan yang lebih layak nanti di ahirat sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, selalu saja ada yang mengusik keberadaan mereka. Ketika mereka mencoba untuk menikmati semuanya, ada orang yang seakan bertingkah layaknya para penguasa yang memiliki segalanya. Ia datang dan menggeretak para pedagang untuk hanya meminta uang dari mereka. Para preman yang seharusnya memang tak ada hak darinya. Wajah bengisnya seolah tak pernah memahami bagaimana rezeki itu didapat dengan susah payah. Setelah seuntai perjalanan mengiring mereka pada satu cerita berlatarkan dinginnya suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang memang. Ternyata sampai hari inipun masih banyak orang yang belum dan bahkan tidak pernah mau mencoba memahami makna akan perjuangan hidup orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu hal yang menarik bagiku saat itu. Mereka para pedagang meskipun dengan ketidakikhlasan mereka, akhirnya merekapun memberikan apa yang diminta oleh para preman tersebut. Satu kata yang patut digaris bawahi disini adalah : "ketidakikhlasan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutar balik semuanya. Andaikan kita sebagai seorang ummat manusia yang juga kadang berlaku tak jauh dari mereka para preman itu. Meminta pada Ia sang khalik untuk senatiasa memberikan segalanya kebutuhan kita, tanpa meminta ridha Alloh atas segalanya, tentunya tak ada satupun kuasa yang sulit untuk Ia mengabulkan segalanya. Memberikan apapun yang kita minta, memberikan apapun yang kita butuhkan, tanpa sedikitpun memberikan keridhaan atas apa yang dianugerahkannya pada kita. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Na'udzubillah ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantaslah ketika para ulama berujar bahwa seorang hamba semestinya mendahulukan memohon ridha Alloh atas segala kebutuhannya. Bukan mendahulukan memohon segala apa kebutuhannya. Apalagi sampai lupa bahkan melupakan untuk meminta diberikan ridha atas segalanya. Karena apapun bentuknya segala apa yang diberikan Alloh pada kita, jika tidak disertai dengan ridha Alloh atasnya, bagaikan satu tubuh yang hidup namun hanya lunglai berdiri tanpa nyawa padanya, tak ada sedikitpun barokah didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa malu yang menyeruak dalam dada ini. Bagaimana tidak?, bukankah sederet barisan panjang permohonan dan permintaan kita pada Alloh seakan senantiasa menguntai, menghiasi setiap hari dalam kehidupan kita? Bukankah berjuta keinginan dan kebutuhan kita senantiasa kita tuangkan dalam ratusan bahkan ribuan paksaan untuk disegerakan atas pengabulan dari-Nya? Namun sayangnya ternyata terlalu sering kita tergesa dalam memohon segalanya. Memohonkan tanpa satu kata untuk memohon juga ridha atas segala apa yang kita mohon dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Alloh memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berdo'a padanya, memohon atas segala kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ud’uuni astajib lakum"&lt;br /&gt;Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pantaskah jika kita meminta dengan tanpa memohonkan pula segala ridha atas kehendaknya? Pantaskah kita memohonkan tanpa disertai meminta ridha atas perkenannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb ...&lt;br /&gt;Kiranya kami seharusnya semakin mengerti, mungkin jika sampai saat ini, sampai hari ini, masih banyak pinta kami yang belum Engkau perkenankan bagi kami. Maka mungkin Engkau sedang mempersiapkannya untuk kami agar segalanya disertai dengan keridhaan-Mu. Bukan anugerah yang engkau kabulkan tanpa sedikitpun kasih sayang rasa tulus dalam pemberian-Nya. Sehingga apapun anugerahnya, akan senantiasa menambah keberkahan dalam hidup kami para hamba-Mu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish shawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-2760303888384073255?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/2760303888384073255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=2760303888384073255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/2760303888384073255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/2760303888384073255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2009/01/ia-dan-ridha-nya.html' title='Ia, dan Ridha-Nya'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-3356166883185768340</id><published>2009-01-06T18:10:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T18:11:53.520-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tak Selamanya</title><content type='html'>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Seperti biasa, sore hari di ibu kota masih harus dilengkapi dengan pemandangan kemacetan dimana-mana. Deru berbagai jenis kendaraan beroda semakin menambah bisingnya suasana. Debu yang meliuk-liuk diantara tingginya ribuan menara seakan tak pernah lelah menari dan berlari menghampiri kami disana. Sesekali aku harus rela menghirup kotornya udara dan terbatuk-batuk karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bis melaju agak kencang menuju ke arah kami. Untuk kemudian berhenti menurunkan penumpang lama dan menggantinya dengan para penumpang baru, seperti layaknya sebuah bejana yang menumpahkan muatannya, lalu sejenak mengganti isinya dengan muatan yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki tinggi semampai berkaus putih terlihat mendendangkan sebuah nyanyian tua. Kulitnya yang juga putih bersih, serta penampilannya yang rapi terlihat seakan menjadikan ia tak pantas berada disana, di atas sebuah bis kota, menyandang predikat sebagai seorang pengamen jalanan ibu kota sambil mendendangkan sebuah lagu serta menanti uluran-uluran tangan dari mereka yang memberikan sekedar uang recehan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikitpun tergores raut kehidupan jalanan di wajahnya. Tak ada hitam legam kuit yang terbakar oleh panasnya surya. Tak ada kilat dikeningnya yang biasanya menandakan bahwa ia telah terbiasa berada disana, dalam kehidupannya. Yang ada hanya pucat dan rasa kelelahannya yang perlahan mulai terlukis dalam raut mukanya. Serta tetes-tetes keringat yang juga kini meliuk diatas pori kulitnya, seakan melengkapi segala penderitaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali ia harus terseok sampai hampir terjatuh dalam langkahnya ketika bis berbelok atau berada dalam kecepatan yang maksimal. "Sepertinya memang ia bukan seorang pengamen ...", ujarku dalam hati waktu itu. Setidaknya mungkin ia masih baru menyandang predikat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada raut sedih dalam hati ini ketika, satu persatu raut senyumnya dengan mencoba tulus ia sampaikan kepada kami para penumpang yang menatapnya dengan sejuta nada heran akan keberadaannya. Mungkin saja ia beberapa waktu yang lalu adalah karyawan di sebuah perusahaan besar dengan penghasilan yang wah ..?, atau mungkin ia baru saja diberhentikan dari pekerjaannya?, atau juga mungkin ia seorang bussinesman yang gagal total dalam membawa usahanya menuju kesuksesan?, atau malah seorang manajer yang harus terpaksa mengundurkan diri karena demi kelangsungan kerja anak buahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah ..."&lt;br /&gt;Dalam hati ini masih bergulat beribu tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas saat itu, aku hanya tahu sebuah jawaban daripadanya. Bahwa ternyata keberadaan kita, kestabilan hidup kita, kesuksesan karir kita, semua hanya bagaikan sehelai daun yang dengan indahnya melambai pada sebuah tangkai, lalu kemudian ketika angin berhembus dengan kencangnya suatu saat nanti membuatnya kemudian terlepas, dan terbang tak tentu arah. Sampai akhirnya mungkin terhempas dan jatuh dalam pijakkan kaki-kaki orang-orang yang berjalan angkuh di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak akan pernah ada yang abadi. Semua hanya persimpangan sementara. Kehidupan selalu akan mengantarkan kita pada berbagai kondisi yang berbeda, serta tak pernah disangka dan diduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hanya barisan-barisan rahasia dari-Nya, yang tak pernah dan tak akan pernah sedikitpun terbuka untuk diketahui para ummat-Nya. Ketika kita hanya mampu mengupayakannya, maka tetap hasil akhir dari segalanya adalah kuasa Alloh semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga lelaki tadi tak pernah membayangkan sebelumnya, kehidupan megah nan mewah yang mungkin saja sebelumnya senantiasa menghampiri dan menuliskan perjalanan hidup darinya, ternyata akan berakhir dan berganti dengan kotornya jalanan, kerasnya kehidupan serta bengisnya masa depan. Hingga akhirnya harus menyeret ia untuk berada disana, diantara ratusan bahkan ribuan pengamen jalanan yang setiap hari harus beradu ragu antara meminta dan berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-3356166883185768340?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/3356166883185768340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=3356166883185768340' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/3356166883185768340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/3356166883185768340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2009/01/tak-selamanya.html' title='Tak Selamanya'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-159546503952773310</id><published>2008-04-14T21:47:00.000-07:00</published><updated>2008-04-14T21:49:02.864-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Dari Mereka, Yang Berbalik Kembali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R-2WswoKCEkAABfSpSc1/senja.jpg?et=q8IULyLS2JBPFvPL2Fxt4w&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=90463634&amp;amp;nmid=90463634"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R-2WswoKCEkAABfSpSc1/senja.jpg?et=q8IULyLS2JBPFvPL2Fxt4w&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=90463634&amp;amp;nmid=90463634" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di persimpangan itu. Deru kendaraan masih memenuhi ruang dengar semua orang yang berada di sekitarnya. Matahari tak hentinya menebar berjuta cahaya, meski kini hari tak lagi seterik biasanya. Sisa-sisa tarian lunglai pepohonan melengkapi penghujung hari di senja kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah ini satu persatu masih setia mengurai cerita. Meski kadang terantuk kerikil kecil ataupun berlomba untuk dapat melihat jelas dibalik deru debu lalu lintas ibu kota. Sepoi angin senja yang kini tak lagi sesegar udara di pagi hari, telah menjelma laksana uap panas yang menyembur kaku dari balik tungku. Hanya tangan-tangan kecil ini yang mampu menyeka satu demi satu tetes butir keringat yang kini perlahan menetes dan menyelinap diantara pori dan kulit-kulit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih berjalan. Berbekal secarik kartu bertuliskan sebuah nama dan alamat seorang yang beberapa saat yang lalu meminta untuk bisa bertemu. Mencari tahu keberadaan seseorang memang kadang ternyata membuat kita harus banyak mengernyitkan dahi, apalagi jika ternyata alamat yang ada kadang tak semudah untuk didapatinya. Seperti halnya saat itu, berkali-kali saya harus berbalik tanya pada beberapa orang tentang keberadaan tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan semua berlalu, senja semakin menjadi, mataharipun kini mulai sembunyi dibalik punggung-punggung bebukitan. Hanya sinaran lembayung senja yang tersisa menyinari indahnya kota. Tidak lagi banyak orang-orang disekitar sana, hanya ada seorang lelaki tua hampir setengah baya dengan perawakan tinggi besar, kulitnya agak kehitaman dalam temaram senja. Sorot matanya sekilas tidak menampakkan rasa keakraban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya segan untuk bertanya kepadanya saat itu. Namun, dalam kondisi seperti itu, dengan terpaksa akhirnya saya beranikan diri juga untuk mencoba mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu'alaikum pak, maaf ganggu mau tanya ...", ucapku saat itu. Tak lupa dengan sedikit menyunggingkan senyuman, meskipun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya sendiri tidak bisa menahan diri jika membayangkan wajah kekurang akrabannya sesaat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun subhanalloh, sesaat kemudian ia menoleh ke arah saya dan membalas senyum, sambil menjawab seluruh pertanyaan saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seraya menunjukkan tempat yang saya cari. Tak ada wajah bengisnya, tak ada kekurang akraban dari sikapnya, bahkan tak ada pula kesombongan daripadanya. Semua hilang bagaikan debu-debu yang kini menghilang tertiup semilir senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak saya tertegun dibuatnya, antara bayangan dan kenyataan kini terbukti bagaikan dua sisi yang berbeda, jauh sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana saya kembali tersadar, ternyata jika kita mengharap yang terbaik dari sikap orang lain, maka adalah tentunya yang terbaik pula yang kita tampilkan untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang tak jarang kita menuntut selalu mendapat perhatian dari orang lain, mengharap pengertian daripadanya, tanpa kita sendiri berbuat yang sama pada mereka. Yang akhirnya, kecewa menjadi satu jawaban nyata ketika yang kita harap tidak sesuai dengan kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan cerita dari seorang sahabat. Tentang sebuah gema disatu senja. Saat itu siapapun orangnya, ketika kita berada disatu ruang kosong yang tak banyak berisi, ketika kita meneriakan segala macam perkataan, maka itulah juga balasan dari gema itu. Ketika kita meneriakan berjuta caci maki maka balasannya adalah caci maki juga. Sama halnya begitupun pula ketika kita meneriakan pujian, maka pujian pula lah yang akan kita dapatkan sesaat kemudian dari gema tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membalas tak sedikitpun berbeda daripadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, andaikan kita semua dapat memahami tentang semua ini, maka mungkin tak akan lagi ada banyak terdapat segala tindak, ucap dan perilaku kita yang mungkin dapat menyakiti perasaan orang lain. Yang ada hanyalah berusaha untuk senantiasa mampu memberikan yang terbaik bagi orang lain, agar kitapun mendapatkan balasan yang serupa darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, andaikan memang pada saatnya kita terpaksa harus mendapatkan balasan yang justru kurang baik daripadanya. Maka yakinlah, kuasa Alloh senantiasa menjadi Dzat yang maha melihat setiap hal yang ada dalam niatan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-159546503952773310?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/159546503952773310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=159546503952773310' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/159546503952773310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/159546503952773310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/04/dari-mereka-yang-berbalik-kembali.html' title='Dari Mereka, Yang Berbalik Kembali'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-8344130671466645464</id><published>2008-04-14T21:45:00.000-07:00</published><updated>2008-04-14T21:47:00.879-07:00</updated><title type='text'>Melihat Dalam Gelap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R-M40AoKCEkAACqzBlU1/malam.jpg?et=elqTCwTeiPRp2I4DmF9PUQ&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=89222926"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R-M40AoKCEkAACqzBlU1/malam.jpg?et=elqTCwTeiPRp2I4DmF9PUQ&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=89222926" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam memang belum terlalu larut, dua buah jarum jam baru berhimpit di hampir angka sepuluh. Itu tandanya, masih ada sekitar sepuluh menit kedepan menuju tepat jam sepuluh malam. Namun lelahnya diri ini seakan terus mengiring langkah untuk segera berkemas dan beranjak meski untuk sesaat sekedar menelentangkan raga ini, hingga akhirnya dengan harap dapat menemukan kembali kesegaran di esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah saklar lampu di ruang tamu segera aku off-kan, lampu gantung yang tadinya menerangi ruangan inipun kini berubah padam. Dan malam kini semakin terasa, hitam mulai menggelayuti diri ini. Dari luar sayup masih terdengar gemericik air hujan yang telah beberapa hari ini tidak lagi menghiasi sunyinya malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranjak meninggalkan sebuah kursi rotan tua menuju sebuah ruangan sempit tak lebih dari 3x3 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejenak aku melemparkan pandangku ke arah jendela. Dari kegelapan memang terasa akan lebih jelas dimana terang itu berada. Seperti halnya saat itu. Aku bisa merasakan bagaimana indahnya suasana dalam temaram kegelapan untuk melihat keceriaan kota. Indah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh ...., andaikan ini sebuah hidayah", gumamku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mudahnya kita menemukan keindahan cahaya terang jika memandang dalam kegelapan. Hingga kita bisa seakan merasakan berada dalam sinaran cahayanya, serta terbawa kedalam kilau-kilau gemerlapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan seseorang yang belum mendapatkan hidayah itu laksana seorang yang berada dalam kegelapan cahaya dalam sebuah ruangan, maka tentunya jika ia memiliki keteguhan dalam menggapai cahaya hidayah diluar ruangan itu pastinya tidaklah begitu sulit. Hanya membutuhkan satu kunci untuk membuka pintu dan keluar dari ruangan tersebut, hingga akhirnya ia bisa bergabung bersama dalam cahaya terang diluar sana. Bersama dengan mereka orang-orang yang telah lebih dahulu merasakan indahnya hidayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun memang persoalannya tidak semudah itu. Yang menjadi persoalan adalah proses ketika seseorang untuk mendapatkan hidayah itu. Ini sebuah hak penentu Alloh untuk memilah dan memilih siapa saja ummat-Nya yang berhak untuk Ia berikan sebuah kenikmatan yang luar biasa, kenikmatan dalam indahnya hidayah. Tidak semuanya menjadi hamba-hamba yang terpilih untuk merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya hal ini yang kebanyakan selalu dijadikan oleh mereka orang-orang yang masih berada dalam cahaya kegelapan hidayah tersebut, untuk beralasan menunggu kuasa Alloh untuk memilih mereka menjadi hamba-hamba terpilih-Nya dalam menggapai cahaya islam. Tanpa sedikitpun berusaha mencari kunci bahkan mebuka pintu untuk keluar dari dalam ruang yang gulita tersebut dan berhijrah menuju benderangnya cahaya diluaran sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miris memang ketika kita mengingat semua itu. Kiranya memang begitu semestinya kita bersyukur atas apa yang telah Alloh karuniakan kepada kita, berada dalam sebuah ikatan keluarga yang telah dari dulu menjadikan Islam sebagai pedoman, bahkan dalam kehidupan sehari-haripun tak lepas dari keislaman itu, baik dimanapun keberadaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, apa cukup kita berucap syukur semata, merasa puas dengan apa yang ada tanpa mencoba untuk berusaha menjadi sebuah jalan hidayah bagi orang-orang yang sampai saat ini masih berada dalam kegelapan cahaya di luar Islam sana? kita hanya menyalahkan mereka yang masih dalam kegelapan cahaya itu sebagai orang-orang yang tak memiliki satu visi akan menuju cahaya Islam? dan, Kita hanya berbangga diri dengan karunia yang ada tanpa mencoba mengajak mereka untuk meniti langkah menuju hijrah kedalam agama Alloh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya mungkin tidak seperti itu. Percayalah, insyaAlloh kita akan menjadi hamba-hamba yang lebih bahagia, jika ternyata bisa berusaha dan mencoba untuk mengurai kembali, membuka lembar baru, mencoba membuatkan kunci-kunci bagi mereka saudara-saudara kita yang kini masih terkunci dalam genggaman keremangan cahaya itu. Atau bahkan membantu membukakan pintu-pintu bagi mereka hingga akhirnya kita dapat bersama merasakan indahnya kuasa-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-8344130671466645464?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/8344130671466645464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=8344130671466645464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/8344130671466645464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/8344130671466645464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/04/melihat-dalam-gelap.html' title='Melihat Dalam Gelap'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-8773765106422318906</id><published>2008-04-14T21:43:00.001-07:00</published><updated>2008-04-14T21:44:57.972-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Selalu Ada Harapan Untuk Mereka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R94lngoKCEkAAB@GKsw1/gerobak.jpg?et=jKt2cbUUIwfjGLEzagqKZw&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=86685173"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R94lngoKCEkAAB@GKsw1/gerobak.jpg?et=jKt2cbUUIwfjGLEzagqKZw&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=86685173" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mie rebus-nya dua mas, pake telor", ujar temanku malam itu kepada seorang lelaki yang sedang berdiri didepan gerobak tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami duduk sambil menunggu mie selesai direbus. Malam memang sudah agak larut. Tapi tak ada gemerlap bintang malam ini. Langit semakin kelam saja. Sesekali hujan masih mengguyur bergantian dengan mendung, berulang-ulang sejak siang tadi. Dua buah balok kayu disulap menjadi dua buah bangku panjang yang memang tidak begitu nyaman untuk kami duduki, namun dalam suasana dan keadaan seperti ini tentunya jika memilih berjongkok dipinggir jalan, tentunya ini jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini musim penghujan belum juga usai. Bahkan yang lebih gak jelas, kini cuaca sudah benar-benar sulit untuk diprediksi, sebentar hujan sebentar panas. Dan ternyata memang benar, sesaat kemudian hujan gerimis kembali mengguyur salah satu pojok di kota metropolitan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan seorang wanita menggendong anaknya setengah berlari menuju ke arah kami. Bajunya sudah agak basah, tangan kirinya bersusah payah menggendong anaknya, semetara tangan kanannya menjinjing sebuah kantong plastik berwarna hitam. Hingga akhirnya iapun sampai dan bernaung di bawah tenda yang sebagian tendanya sudah tidak lagi utuh sempurna, tenda yang kini kamipun berada dibawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi ada baju bagus mas, warnanya merah ati, ada bunga-bunga dibagian pinggangnya. Cocok banget buat anak kita, ...", ujarnya sumringah pada lelaki tadi yang ternyata suaminya itu, namun sesaat kemudian ia terhenti tak melanjutkan ceritanya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu suaminya hanya tersenyum. Seakan menenangkan hati istrinya untuk bersabar. Dalam kondisi seperti ini memang bukan hal gampang mengais rezeki bagi mereka yang menggantungkan usahanya dijalanan seperti mereka. Bukan yang berada didalam sebuah gedung bertingkat yang lengkap dengan kursi nyaman, seperangkat komputer serta pendingin ruangan. Mereka yang berada di jalanan harus bersaing dengan panas dan hujan yang tidak pernah disangka-sanngka kedatangannya. Kadang mereka harus gulung tikar menyelamatkan dagangannya ketika hujan sudah begitu amat derasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku menoleh ke arah mereka. Kulit-kulit keriput menghiasi wajah mereka. Kilatan cahaya lampu petromax tergambar jelas di antara keringat yang menjulur disekitar kulit lengannya. Lekukan-lekukan tulang begitu sempurna meliuk hampir pada setiap sisi tubuhnya. Baju yang lusuh masih melekat ditubuhnya yang kini menggigil dalam kedinginan dan guyuran air hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang membuat aku kagum dari mereka adalah meskipun dalam kondisi demikian, selalu hadir adanya rasa ingin memberikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Seperti yang baru saja diutarakan wanita itu pada suaminya. Mungkin andaikan ada rezeki, jatah untuk diri mereka sendiri akan jauh berada di urutan kesekian puluh daripadanya. Yang mereka utamakan tentunya untuk mereka buah hatinya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Subhanalloh ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah tidak lagi memperhatikan bagaimana kesehatan mereka, bagaimana kondisi tubuh mereka, apalagi bagaimana dengan penampilan mereka. Yang terpenting bagi mereka hanyalah satu, yaitu bagaimana anak-anaknya mampu tumbuh dan menjadi seorang yang akan mampu ia banggakan satu saat nanti di kemudian hari. Jika itu telah tercapai, maka seluruh perjuangan dan penderitaannya seakan luluh lantah berganti sejuta nuansa bangga dan bahagia. Meskipun ternyata dalam perjalanannya tidak semuanya semulus demikian, tidak sedikit yang membuat kita miris, ketika banyaknya mereka anak-anak yang justru tidak menyadari akan hal ini, hingga akhirnya mereka yang dulu dimanjakan dengan sejuta kasih sayang dari orang tuanya, namun justru ketika dewasa mereka seakan melupakan segala jasa dari mereka orang tuanya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Na'udzubillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berselang, waktu sudah berlalu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, aku menemukan kembali wanita itu. Kondisinya memang sudah berbeda. Kini panas matahari sudah kembali memanggang suasana kota, bukan lagi hujan yang mengguyur ditengah petala. Sebuah gerobak tua masih setia menemani perjalanan panjang kisah kehidupan mereka. Dekat disamping kanannya seorang gadis kecil berlari-lari, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alhamdulillah &lt;/span&gt;baju merah ati dengan bunga-bunga dipinggangnya kini sudah melekat ditubuh kecilnya itu. Ia sang buah hati kini melompat-lompat dan tertawa riang disamping wanita itu. Sementara wanita itu hanya berdiri dan tersenyum memandang puas disebelah suaminya, menikmati kebahagian anak tercintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantik, gadis kecil itu begitu cantik dengan baju barunya itu. Ia memang jauh lebih baik dengan kondisi ketika pertama kali kami melihatnya pada malam itu. Ia telah berubah. Hanya mereka yang tidak berubah, mereka yang kini berdiri memandang keceriaan suasana, mereka yang cukup ikhlas serta penuh kesabaran dengan kondisi seperti sekarang ini, mengenakan baju yang pas-pasan, penampilan yang mengenaskan, serta keringat-keringat yang bercucuran. Namun, jauh didalam palung hati mereka, aku yakin, selalu ada seikat do'a dari mereka, sebuncah harapan untuk putra-putrinya, sebersit bahagia akan kehadiran sukses ia buah hatinya di hari kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-8773765106422318906?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/8773765106422318906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=8773765106422318906' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/8773765106422318906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/8773765106422318906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/04/selalu-ada-harapan-untuk-mereka.html' title='Selalu Ada Harapan Untuk Mereka'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-1819000205945079992</id><published>2008-04-14T21:40:00.000-07:00</published><updated>2008-04-14T21:42:46.412-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Do'a Sang Malaikat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R9jgvwoKCEkAAHzcmJc1/mas.jpg?et=UmMLAKF6ACTtywYF6615Hw&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=86086790"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R9jgvwoKCEkAAHzcmJc1/mas.jpg?et=UmMLAKF6ACTtywYF6615Hw&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=86086790" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelataran putih serta hamparan karpet beludru yang menutupi hampir seluruh bagian masjid masih terlihat agak lengang dari biasanya. Adzan dzuhur memang masih sekitar empat puluh lima menit lagi baru akan berkumandang. Ada beberapa orang yang sudah duduk bersila di beberapa bagian teras masjid. Aku mengelilingkan pandangku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menuntun langkah keponakanku, aku melangkah memasuki ruangan utama masjid itu. Alhamdulillah, masih ada waktu untuk kami tunaikan tahiyatul masjid. Hembusan angin perlahan menelusup ke pundak mengiringi takbir. Sejuknya suasana memang selalu hadir dalam setiap keberadaan di bumi Alloh ini. Kapanpun, dimanapun, ia selalu tampil dengan segala keteduhan serta kenyamanan bagi siapapun para hamba-Nya yang mengharapkan ridho dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai salam, aku tersenyum melihat tingkah keponakanku yang sepertinya memang masih sulit mengikuti gerakan sholat kami untuk lebih sempurna. Dia lalu segera mengubah cara duduknya dan kemudian bersila disampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar lima menit suasana masih hening. Matahari perlahan merangkak ke atas pusat dunia. Menyemburatkan sinarnya hingga seakan menusuk-nusuk diatas kepala. Beberapa orang masih berdatangan saat itu. Hingga tak lama kemudian, keponakanku berbisik minta uang. Jujur saat itu aku agak heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat apa?", tanyaku&lt;br /&gt;Ia hanya tersenyum, lalu kemudian menunjuk sebuah kotak yang ada di sudut masjid itu, yang biasanya pada saatnya nanti akan dipindah bergilir menyusuri barisan-barisan shaf para jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooo....", aku mengerti sambil kemudian tersenyum kearahnya.&lt;br /&gt;Rupanya hari ini dia lupa meminta uang ke ibunya untuk mengisi kotak amal masjid itu. Biasanya memang setiap dia pergi ke masjid, dia dibekali uang untuk dia masukkan di kotak amal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum dalam hati, semestinya memang aku malu. Bukankah shodaqoh itu akan menolong kita dari murka Alloh dan menghindarkan diri dari kematian su'ul khotimah?. Tapi, mengapa selalu lupa untuk membiasakan diri ini menjalankan satu tuntunan syariat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhhhhhhhhh ..."&lt;br /&gt;Aku membuang nafas panjang. Ada rasa berat dan menyesal mengiringinya. Ada ketakutan yang hebat meliputi daripadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangku seketika menjelma, teringat akan risalah ia sang Rasul Alloh, ketika menyampaikan bahwa setiap pagi akan datang dua malaikat yang menyeru kepada manusia dan berdo'a kepada Alloh SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berseru untuk mengingatkan kita agar bersedekahlah setiap pagi dari harta kita meskipun sedikit daripada lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiada matahari masih menyinari bumi melainkan ada dua malaikat. Masing-masing menyeru manusia dan berdoa, ‘ Wahai manusia, bergegaslah menuju Tuhanmu sedikitnya harta tapi mencukupi lebih baik daripada banyak tapi kau lupa ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian yang lainnya berdo'a, "... Wahai Allah, berikan ganti harta kepada mereka yang bederma dan bagi si kikir segera binasakan saja hartanya". (Dikutip dari HR. Abu Darda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb ...&lt;br /&gt;Aku menundukkan kepalaku. Andaikan tak ada maha rahman dan rahim-Mu, tentunya sudah Engkau perkenankan do'a dari para malaikat-Mu. Menggantikan harta pada mereka yang senantiasa berderma dan membinasakannya harta-harta yang telah sebelumnya Engkau titipkan pada kami yang senantiasa lupa berbagi kepada sesama. Namun apa yang terjadi, Allah ternyata lebih banyak menggantikan bahkan hingga melipat gandakan harta kita ketika kita berbagi kepada sesama. Namun, Ia sebaliknya lebih sering menangguhkan untuk membinasakan seluruh harta kita ketika kita lupa bahkan melupakan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naifnya, kita seakan tak pernah merasa dosa, kita seakan tak pernah merasa resah akan semuanya. Bahkan tak pernah ada rasa menyesal dalam hidup kita ketika melewati hari demi hari yang hampa tanpa berusaha untuk meluangkan waktu sejenak, merogoh kantong baju kita, dan meniatkannya untuk hanya mengharap ridha-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, andaikan kita mencoba menelusuri kasih sayang Alloh pada hamba-hamba-Nya. Ternyata banyak barokah yang Ia titipkan, yang Ia hadirkan dalam hidup hamba-hamba yang senantiasa berusaha untuk istiqamah menunaikan satu amalan ini. Bukan hanya Ia sang Rasul Alloh saja, bukan hanya mereka para sahabat saja, bukan hanya mereka para alim ulama saja, namun janji ini Alloh pertunjukkan untuk kita semua, yang telah Ia berikan kepercayaan untuk mengarungi hamparan berjuta amalan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-1819000205945079992?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/1819000205945079992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=1819000205945079992' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/1819000205945079992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/1819000205945079992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/04/doa-sang-malaikat.html' title='Do&apos;a Sang Malaikat'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-3350591435539459472</id><published>2008-04-14T21:37:00.000-07:00</published><updated>2008-04-14T21:39:48.293-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Perahu Kertas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R896pgoKCEkAADwRiv41/kertas.jpg?et=B4fU15TuHIld8RA6foajzg&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=85023595&amp;amp;nmid=85023595&amp;amp;nmid=85023595"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R896pgoKCEkAADwRiv41/kertas.jpg?et=B4fU15TuHIld8RA6foajzg&amp;amp;nmid=&amp;amp;nmid=85023595&amp;amp;nmid=85023595&amp;amp;nmid=85023595" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih berlari ditepian. Empat orang anak kecil dengan kaki-kaki telanjangnya masih berlomba, berlari dan mengejar perahu-perahu kertas yang baru saja mereka layarkan diantara alunan gelombang riak demi riak sungai itu. Tanpa peduli dengan apa yang mereka lewati, mereka terus berlari mengikuti kemana perahu-perahu  itu pergi. Terkadang sesekali mereka tertawa lepas sambil bercanda ria. Hingga ditepian batas mereka melabuhkan perahu kertas mereka disana. Lalu dengan segera tanpa komando mereka melompat kegirangan, menceburkan tubuh-tubuh mungil mereka ke sungai. Tawa-tawa mereka lepas, tanpa beban bahkan tanpa ada sedikitpun rasa gundah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riak sungai sore itu seakan ikut bergembira ditengah keriangan suasana senja. Alam raya menyambut ceria, sementara daun-daun masih menari mengiring nyanyian sepi. Semilir angin dari ujung utara mempermainkan ujung-ujung rambutku. Dimana mereka masih tertawa dan akupun tersenyum dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa kembali ke beberapa tahun silam, dimana disaat-saat usia begitu indah mengurai satu kisah, yang tak akan pernah lekang dari dalam jiwa. Kebersamaan memang selalu mengantarkan pada satu catatan kisah kehidupan. Antara suka dan duka selalu mampu dirangkai menjadi satu, untuk kemudian dibalut dalam satu balutan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhhmmm ...."&lt;br /&gt;Aku menarik nafas ...&lt;br /&gt;Dalam hati ku berlafadz sebuah do’a, semoga kebersamaan mereka menjadi sebuah tali pengikat akan kebersamaan yang tidak akan pernah lengkang oleh masa hingga kelak di akhirat, dalam menikmati jamuan-jamuan surga-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menolehkan pandangku kesekeliling tempat ini. Tak ada lagi mereka disini. Mereka yang beberapa tahun silam masih bersama bergembira mengalunkan tembang-tembang kisah kehidupan, diiringi dengan canda dan ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan mampu kita menawar dan meminta untuk tak pernah berpisah dengan mereka orang-orang terdekat kita, mungkin berkali bahkan beratus kali kita akan selalu dan selalu memohonkannya. Namun itu sepertinya bukan menjadi sebuah jaminan andaikan taqdir telah menjadikannya lain dari harapan. Karena meskipun berawal dari hal yang sama, maka titik akhir darinya tidak akan pernah selalu sama. Seperti halnya perahu-perahu kertas yang tadi berlayar berawal dari titik yang sama, kemudian ketika mereka mengarungi diantara riak sungai itu, pada akhirnya mungkin akan berbeda. Ada yang lebih dulu, ada yang sampai belakangan. Ada yang sampai ditepian, bahkan mungkin ada pula yang tenggelam ditengan perjalanan. Begitulah kiranya kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah ada satu penjamin akan kelanggengan sebuah kebersamaan, terkecuali jika kita berada dalam naungan rahmat, ridha dan kasih sayang-Nya. Berada dalam balutan mesra Ia yang penuh dengan keagungan, yang mampu menjadikan segala yang tidak akan pernah mungkin menjadikannya mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan semua itu tentunya tidak akan pernah bisa digapai, ketika kita tidak pernah memohon dan meminta serta berusaha untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah mereka yang senantiasa berbagi, adalah mereka yang senantiasa mengingatkan saudara-saudaranya dalam meniti langkah, tentunya menjadi pembuka kesempatan untuk mampu meraih kebersamaan hingga nanti di akhirat kelak, ketika menikmati jamuan-jamuan keindahan serta kemulian ciptaaan Alloh dalam surga-Nya. Hingga kemudian dengan berlandas pada rasa saling mencintai dan menghargai antara satu dengan yang lainnya hanya karena satu alasan semata, hanya karena Ia dzat yang maha satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Laa tadkhulul jannata hatta tu'minuu walaa tu'minuu hattaa tahabbuu ..."&lt;/span&gt; (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai…", begitu indah sebuah sabda ia Muhammad SAW sang penebar risalah Alloh, ketika mengingatkan kita hambanya untuk senantiasa saling mencinta, saling mengerti hingga saling memahami antara satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang senantiasa menebar ukhuwah hingga merajutnya beraneka keragaman menjadi satu dalam ikat kebersamaan, yang nantinya mengantarkan kita pada ia kebersamaan yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aamiin yaa Robbal'alamiin ...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-3350591435539459472?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/3350591435539459472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=3350591435539459472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/3350591435539459472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/3350591435539459472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/04/perahu-kertas.html' title='Perahu Kertas'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-2809551658444886964</id><published>2008-04-14T21:34:00.000-07:00</published><updated>2008-04-14T21:36:41.196-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Hanya Ia Yang Setia</title><content type='html'>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang untuk yang kesekian kalinya aku melewati jalanan itu disaat malam menjelang ke sepertiga terakhirnya. Sudah tidak banyak aku jumpai orang-orang yang biasanya lalu lalang disekitar sana. Hanya ada beberapa saja yang mungkin mereka berada dalam kondisi yang tidak jauh berbeda denganku akhir-akhir ini. Dimana antara tuntutan tugas dan amanah sepertinya posisinya sudah semakin jauh lebih membumbung tinggi dibandingkan dengan saat-saat senggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu lampu-lampu di taman kota kini mulai mati, biasanya memang hanya tinggal beberapa lampu saja yang menyala hingga pagi nanti. Sementara itu, kerikil jalanan masih setia menemani langkah ini, meski kadang mereka mesti melompat dan berlari karena terseret langkahku yang sudah semakin tak tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikejauhan sana dua orang pemuda sedang asyik berbincang, sepertinya memang mereka sedang membahas sesuatu, hingga saking asyiknya sampai mereka mampu bertahan hingga di kala dini hari menjelang seperti ini. Semakin lama semakin aku mendekat ke arah mereka. Tidak lebih dari dua puluh tahunan pikirku menebak usia mereka. Seorang dari mereka dengan seriusnya bercerita, sementara yang satu lagi memperhatikannya sambil sesekali mengomentarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alangkah indahnya, andaikan kita memiliki mereka yang bisa mendengarkan segala keluh kita, kapanpun itu ...", gumamku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itukah arti kesetiaan dalam persahabatan?&lt;br /&gt;Aku kira bukan, karena diakui ataupun tidak, kadang seorang sahabatpun satu waktu akan berada di posisi jenuh dengan segala keluh dan kesah kita. Mungkin ketika kita bercerita tentang masalah kita, siapa tahu diapun memiliki masalah yang sama atau bahkan lebih berat dari apa yang kita hadapi. Hingga iapun tak mampu memberikan atas apa yang kita harapkan didapat darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sejenak merenungkan semuanya. Malam terasa semakin sepi. Dingin seakan menyelimuti diri. Sementara suara binatang malampun seakan menghilang. Hening ...&lt;br /&gt;Aku menarik nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku semakin mengerti, ternyata memang semestinya tak ada lagi yang perlu diragukan dari-Nya. Hanya Ia yang maha santun dengan segala rahmat dan kasih sayangnya, akan senantiasa setia menerima segala keluh serta kesah para hamba-Nya. Tak ada dan tak akan pernah ada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku kembali merenungi kembali ayat-ayat-Nya yang telah ia perkenankan untuk menjadi petunjuk diri ini. Merenungi satu makna akan sebuah janji dari-Nya, memaknai satu kepastian akan keberadaanya yang sungguh amat teramat dekat dengan diri ini. Ya Rabb, ampuni diri ini, yang ternyata begitu mudah untuk menyangsikan atas segala kuasa-Mu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa'idzaa sa alaka 'ibaadii 'annii fa'innii qoriibun ujiibu da'watad dai'i idzaa da'an ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo'a kepadaKu ...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tetes kesejukkan yang terasa seakan menelusup kedalam diri ini, ketika mencoba kembali merenungi ayat ke 186 di Surat Al-Baqarah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang kita selalu merasa bingung ketika menghadapi sesuatu hal yang seakan menyudutkan atas posisi kita. Hingga akhirnya kita serasa begitu sulit mencari dan begitu sibuk bertanya, kepada siapa harus mengadukan segalanya? Percayalah, tak akan ada yang bisa menjamin siapapun mahluknya yang akan senantiasa mengerti akan diri ini, siapapun dia. Karena, memang ternyata benar, dalam masing-masing diri ini selalu ada keegoan diri yang seringkali telah membatasi akan makna kesetiaan antara kita dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu makna penghambaan yang bisa menjawab tanya itu. Penghambaan antara seorang hamba denga Ia yang maha segalanya. Yang akan mampu menjadikan satu solusi untuk menjembatani diri hingga kita mampu setiap saat setiap waktu mengadukan segala hal yang ada. Tanpa batasan masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun memang, ada syarat untuk kita ketika mengharap akan keberadaan kita agar selalu bersama-Nya. Hingga hidup ini terasa indah dalam naungan rahmat dan kasih sayang-Nya. Adalah sebuah lanjutan dari ayat yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" ... maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-2809551658444886964?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/2809551658444886964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=2809551658444886964' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/2809551658444886964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/2809551658444886964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/04/hanya-ia-yang-setia.html' title='Hanya Ia Yang Setia'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-3867591145390354075</id><published>2008-02-18T01:34:00.000-08:00</published><updated>2008-02-18T01:36:27.079-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Berguru Pada Sejulur Akar ...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja di hari itu, awan hitam berarak dan kini hampir menutupi seluruh angkasa. Keriangan suasana berubah dalam sesaat. Matahari bersembunyi dibalik kelam, sementara rintik hujan segera menghambur ceria diatas hamparan alam raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan februari ini memang seakan mengantarkan kami akan satu lagi bukti kemahaan Ia sang Kuasa. Dimana dalam sekejap mata saja kuasa-Nya telah mampu membolak-balikkan segalanya. Cuaca antara ceria dan kelamnya suasana seakan menjadi dua sisi yang begitu mudahnya Alloh pergantikan untuk kami tafakuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan titik-titik air hujan itu semakin deras dan bersatu dalam lebat. Seorang bapak tua berusia kira-kira lebih dari lima puluh tahunan berlari menghampiri sebuah pohon tinggi di tepi jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlindung dibalik rindangnya dedaunan di musim penghujan memang menjadi satu pilihan bagi para musafir yang berada ditengah perjalanan seperti itu. Meski memang tak seutuhnya melindungi ia dari terpaan hujan, namun setidaknya telah mengurangi ia dari basah kuyupnya guyuran air hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap kearahnya. Sebuah pohon yang dengan tegap berdiri dan kokoh diantara terpaan deru angin dan guyuran hujan di senja itu. Hanya beberapa kali saja terkadang dedaunan itu bergoyang dan meliuk terbawa alunan alam. Sedangkan batang pohonnya tak sedikitpun tergoyahkan. Ia berdiri dengan angkuh menjulang tinggi hingga bagai membelah luasnya langit senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dalam hujan. Ketika sang surya memanggang suasana ditengah teriknya hari-pun, ia sang pohon selalu mampu berdiri angkuh dan bertahan. Atau mungkin ketika angin berhembus, para dedaunan dengan indahnya menari, sambil diringi nada-nada dari ranting-ranting yang terkadang beradu. Mungkin jikalah mereka sanggup berkata, mereka akan berujar bahwa, "Inilah aku, yang dengan kerindangan daunku telah mampu menjadikan kalian para manusia berada dalam perlindungan tubuhku, yang dengan tegap tubuhku telah mampu menopang segala beban yang ada dipundakku, bahkan yang dengan eloknya tarianku telah mampu membuat decak kagum para pengagumku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, mereka layak berujar demikian, dan memang pula tak salah, kuasa-Nya telah menjadikan pohon-pohon rindang itu menjadi bagian penolong bagi kita para manusia disaat tak ada lagi tempat untuk kita berteduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejenak aku justru dibuatnya tersenyum dengan kesombongan batang pohon dan dedaunan itu. Aku melirik ke arah sejulur akar dibagian bawah pohon itu yang menghunjam kedalam tanah. Seakan tersipu malu, ia menelusup kedalamnya. Dengan rendah hatinya ia lebih baik menghindar dari pandangan orang sekitar. Ia tidak mau membuka dirinya berlebihan apalagi hingga menyombongkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya seperti itu memang selayaknya kita. Disaat apapun yang telah kita perbuat bagi orang lain, kita akan lebih dikagumi jika mampu menahan diri untuk menyembunyikan identitas kita, bukannya malah menyombongkan diri dan seakan berteriak lantang pada semua orang, bahwa apa yang terjadi, semua karenaku. Kalaulah bukan aku, tak mungkin semua bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya julur akar-akar pohon tadi yang memilih untuk diam dan menyembunyikan diri atas apa yang telah diperbuatnya. Padahal, bukankah jika dia berniat menyombongkan diri dia bahkan lebih layak daripada hanya sebatang pohon ataukah rindang daun-daun itu? Begitu banyak yang telah ia perbuat bagi kelangsungan hidup dan mati sebuah pohon. Dengan kekuatannya ia telah mampu menopang sampai setinggi apapun pohon itu tumbuh. Dengan kemampuannya ia telah mampu mencari sisa-sisa air yang kemudian ia jadikan jalan untuk ia edarkan keseluruh batang, ranting hingga dedaunan di pohon itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi? Ia sang akar tetap memegang teguh rasa rendah hatinya dengan tidak lalu kemudian mengambil peran dari batang ataukah ranting, apalagi dedaunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disanalah ternyata kuasa Alloh telah mengajarkan kita kembali untuk bisa mentafakurinya. Membaca ayat-ayat kekuasaannya yang ia bentangkan dalam kehidupan ini. Maha suci-Mu yaa Rabb ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tidak semudah kita membalik telapak tangan ini. Ketika diri berharap menjadi seorang yang pandai menata diri, menata hati. Namun, kiranya tiada salahnya jika kita memulai kembali membangun semuanya keagungan ahlaq itu pada diri-diri kita pribadi. Untuk kemudian semoga mampu menjadi contoh bagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya dengan mencoba mengikuti jejak langkah sang akar yang sungguh mengagumkan tadi. Menjaga hati, tidak bersombong diri atas apa yang telah ia perbuat, meski kadang ia hanya diinjak dan dilupakan. Tapi tetap, disisi Alloh, jiwa-jiwa mereka yang seperti itu adalah jiwa-jiwa mereka yang memiliki predikat mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-3867591145390354075?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/3867591145390354075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=3867591145390354075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/3867591145390354075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/3867591145390354075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/02/berguru-pada-sejulur-akar.html' title='Berguru Pada Sejulur Akar ...'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-7649529320700233450</id><published>2008-02-18T01:33:00.000-08:00</published><updated>2008-02-18T01:34:10.240-08:00</updated><title type='text'>Mahakarya!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu isya telah cukup lama berselang, keheningan malam kini mulai menghiasi disatu tepi keramaian kota. Sejenak aku sandarkan tubuh ini ditepi sebuah dinding penyangga satu sisi dari ruang kamarku. Beberapa hari ini suasana kota memang cukup membuat nyaman, panasnya udara Jakarta yang biasanya tak luput dari setiap jejak dan helaan nafas para penghuninya kini berlalu dan berganti dengan kedinginan suasana yang terkadang juga dihiasi dengan indahnya butiran-butiran hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini memang jadwalku untuk menghubungi ibu di kampung sana. Sengaja aku menunggu waktu hingga saat isya telah berselang. Karena aku tahu, memang biasanya ibu baru pulang selepas sholat isya berjamaah setelah sebelumnya mengajar mengaji di mesjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian sebuah suara lembut, penuh cinta dan kasih sayang segera menyapaku di ujung sana. Untaian-untaian nasihat darinya lebih indah dari hanya sekedar alunan-alunan nada. Kata-kata bijaknya lebih bermakna dari hanya sekedar puisi-puisi atau sajak-sajak para pujangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaa Rabb, terimakasihku telah terlahir dari ia sang wanita mulia", gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu masih berjalan, seperti biasanya setelah aku bertanya bagaimana kabar beliau disana, beliau selalu berbalik berganti tanya tentang keadaanku disini. Aku tahu, kekhawatirannya akanku adalah satu bukti rasa cinta dan sayangnya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan kami berlanjut hingga akhirnya sampai pada satu ketika aku mengabarkan pada beliau, bahwa aku baru saja membeli sebuah buku baru. Sebuah novel dengan segala kemasyhurannya. Kukatakan pada beliau tentang isinya yang begitu sarat makna dan manfaat bagiku. Sepertinya beliau senang sekali mendengarnya. Beliau selalu mengaitkan kesamaan karakterku dengan almarhum bapak yang juga memiliki satu hobi yang sama denganku, yaitu buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asal jangan lupa, kalau kita ternyata sebetulnya masih memiliki satu mahakarya yang lebih sempurna dari beribu karya yang ada. Ada satu mahakarya yang lebih bermakna dari berjuta rangkaian kata. Dan, ada satu mahakarya yang lebih sarat akan ilmu dari bermilyar luapan ilmu yang ada pula".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maha karya itu lebih menarik dari hanya sebuah novel fenomenal. Mahakarya itu lebih lengkap dari hanya sebuah karya sejarah. Mahakarya itu lebih runtut daripada hanya sebuah biographi orang-orang terkenal. Bahkan mahakarya itu juga lebih bijak daripada segala tata aturan dan perundangan yang ada di berbagai negara dibelahan manapun di dunia ini. Itulah mahakarya yang telah Alloh turunkan melalui Jibril pada ia sang Rasul Alloh, Muhammad SAW".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak, bukan kaget atas ketidaktahuanku, namun sungguh aku malu akan kelalaianku dalam mentafakuri satu mahakarya itu. Satu mahakarya yang telah Alloh kirimkan sebagai bentuk hamparan rahmat-Nya yang terhampar bagaikan untaian-untaian cinta bagi para hamba-Nya dalam menapaki kehidupan di dunia yang fana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang diri ini lebih banyak mengagumi karya-karya dari berjuta hamparan penulis-penulis muda, yang setiap hari dengan cepatnya tumbuh dan bertambah banyak bagai jamur dimusim penghujan. Menjadikannya karya-karya mereka sebagai satu acuan hidup, bahkan tak jarang pula sampai mampu mempengaruhi satu sisi hidup kita. Untuk kemudian mengidolakannya, sampai disetiap agenda bedah karya mereka, kita tak pernah ketinggalan untuk selalu ada dibarisan terdepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal untuk mahakarya yang benar-benar mahakarya itu sendiri ternyata kita sering terlupa, lalai bahkan sampai seakan meniadakan akan keberadaannya. Na'udzubillah ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat dalam acara kajian bedah Al Quran di beberapa waktu yang telah terlewat. Jumlah mustami yang hadir bebanding jauh dengan jumlah mustami di sebuah acara bedah buku. Bagai antara ibu jari dan telunjuk yang dihimpitkan, begitulah kiranya perbandingan mustami yang hadir saat itu. Dan yang lebih menambah aneh adalah, mereka yang hadir di acara kajian Al Quran biasanya adalah mereka yang telah matang dalam segi usia. Bukan mereka kaum muda yang sebetulnya masih memiliki semangat prima dalam menegakkan panji-panji Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saatnya kita berbenah diri, memilah dan berlaku adil akan apa yang semestinya kita mampu berbuat adil. Berusaha kembali menebar semangat untuk mengkaji ia sang mahakarya, memahaminya serta mengamalkannya. Hingga nantinya kita mampu menempatkan AlQuran sebagai satu-satunya pedoman hidup yang betul-betul mampu membimbing diri ini dalam menapak jauh dan semakin mendekat akan rahmat-Nya. InsyaAlloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-7649529320700233450?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/7649529320700233450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=7649529320700233450' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/7649529320700233450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/7649529320700233450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/02/mahakarya.html' title='Mahakarya!'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-597694420341160023</id><published>2008-02-01T07:53:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T07:56:05.014-08:00</updated><title type='text'>Dalam Rinai Hujan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan masih belum berhenti, titik-titik air kini menjelma seakan butiran-butiran kristal yang menghiasi hamparan dunia. Ia kembali datang setelah hampir beberapa pekan lamanya ia tak kunjung tiba. Matahari pagi entah dimana kini ia bersembunyi, sejak shubuh tadi memang ibu kota diselimuti oleh dinginnya suasana. Embun yang biasanya tersipu dan dengan cepat berlalu, berganti karena hangatnya suasana, kini bertengger kokoh di kedinginan cakrawala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik jendela, aku melepaskan pandang jauh ke arah sana, arah dimana sebuah tanah lapang terhampar di ujung sana. Beberapa anak kecil masih dengan asyiknya berlari, dan mengejar sebuah bola putih yang kini telah bercampur dengan coklatnya tanah lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali masih terdengar olehku, sorak sorai mereka ketika berhasil measukkan bola tersebut ke gawang lapang. Mereka tersenyum, dan akupun tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah-tanah itu kini berganti basah, setelah dengan rengkuhnya meneguk tetes-tetes air hujan. Bagaikan iringan -iringan kafilah yang kehausan ditengah padang sahara, kemudian menemukan sebuah mata air yang memancar dan kemudian mempersembahkan kesegaran bagi jiwa-jiwa yang dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku memutar ulang pada masa itu, masa dimana aku berada diantara mereka yang juga sedang berada dalam dahaga serta kehausan dalam menantikan kesejukan iman. Saat itu, ta'lim-ta'lim di pelbagai majelis menjadi bagian dari untaian agenda mingguan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terdengar jelas ditelingaku saat itu, ketika seorang lelaki setengah baya dengan sorban putihnya yang melingkar diatas kepalanya, serta dibalut dengan pakaian serba putih pula membungkus hampir seluruh tubuhnya berujar pada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihatlah tanah itu, begitu kering dan kerontang, menantikan hujan yang entah kapan akan datang. Mereka bagaikan jiwa-jiwa muda dari hamparan ummat ini, yang kini bertebar diseluruh jagat raya, menantikan guyuran-guyuran serta beningnya cahaya islam, yang akan menjadikan mereka kembali merasakan kesejukan iman", ucapnya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ia menarik nafas panjang. Sementara kami hanya terdiam saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika nanti hujan itu telah tiba, dengan segera tanah-tanah itu mereguknya dalam suka cita, lalu ... sesaat kemudian tanah itu menjadi kembali sejuk dan daripadanya tumbuh subur berbagai macam karunia Alloh. Begitulah kiranya pula ummat yang mau menerima apa yang disampaikan Alloh dalam wahyu-wahyu-Nya melalui para rasul-Nya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namun, coba antum lihat kesebelah sana, dimana hamparan tembok kini telah menutupi sebagian tanah lapang disebelah sana", katanya sambil menunjuk jauh arah sebelah kiri tempat kami sekarang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andaikan hujan datang, dan membasahinya, maka dengan angkuhnya tembok-tembok itu menepis keberadaanya, membiarkan tetes-tetes air hujan tersebut pergi dan berlalu dengan hampa. Tak berbekas, dan tak pula sanggup membasahinya hingga memberikan kesejukan daripadanya. Apalagi sampai membuatnya subur dan tumbuh bermacam karunia Alloh padanya", lanjutnya panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya tertunduk malu saat itu, meresapi satu persatu untai kata-nya yang seakan menyadarkan kami atas segala kealfaan diri selama ini. Begitu sering kami melalaikan segala peringatan dar-Nya, yang ia sampaikan dalam lembaran surat-surat cintanya, yang Ia tuangkan dalam mushaf suci-Nya. Kami kadang justru merasa lebih asyik dengan karya-karya sastra para pujangga, yang padahal tak sedikitpun mereka memiliki satu kuasa jika Alloh tak berikan satu bekal dan karunia ilmu kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kemodernan zaman memang begitu tamaknya membentengi diri-diri ini, lalu merengkuh dan menambah keangkuhan daripada diri kita, menganggap kita telah meraih segalanya. Seperti halnya lapisan tembok yang kini melapisi sebagian tanah lapang itu. Indah, namun ternyata begitu sombongnya menerima untaian kuasa-Nya, seperti pula seorang diri yang begitu sulit untuk meyakini tanda-tanda kebesaran Illahi. Padahal, dibalik benteng-benteng kemodernan zaman tersebut, jiwa-jiwa kita yang hampa serta gersang masih menantikan guyuran-guyuran kesejukan islam, yang dapat mengembalikan jiwa-jiwa kita menjadi bagian dari jiwa-jiwa para hamba yang muthmainnah. Hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk nanti bersama dengan mereka para ahli ibadah kepada-Nya, hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk jika kembali hanya kepada pangkuan-Nya, serta hamba-hamba yang Alloh persilakan untuk dapat menikmati keindahan dalam surga-Nya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;InsyaAlloh ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-597694420341160023?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/597694420341160023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=597694420341160023' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/597694420341160023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/597694420341160023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/02/dalam-rinai-hujan.html' title='Dalam Rinai Hujan'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-1200017788784009961</id><published>2008-01-30T21:09:00.002-08:00</published><updated>2008-01-30T21:11:01.254-08:00</updated><title type='text'>Setengah Sajadah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok sajadahnya dilipat dua kek?", tanya seorang bocah berusia sekitar tiga tahunan kepada seorang kakek tua yang sebagian rambutnya sudah tidak lagi hitam, namun kini bersulam dalam dua warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek tua itu hanya tersenyum dan menatap cucu lelakinya itu kemudian mempermainkan rambut pirangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, ayo ikuti kakek, kita sholat sunnat dulu!", ajaknya. Sesaat kemudian mereka berdua larut dalam penghambaannya, mempersembahkan kembali rukuk dan sujudnya pada Ia yang maha kuasa. Usai mereka salam, tak lama kemudian waktu berselang, iqomat berkumandang. Kami semua berdiri dan bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah. Shaf-shaf kini tertata rapi memanjang dari ujung kiri hingga ke kanan ruangan masjid itu. Kakek tua itu lalu membuka lipatan sajadahnya, untuk kemudian meletakkannya dengan arah memanjang, hingga kini terbagi menutupi dua bagian tempat sujud, baginya dan bagi seorang pemuda asing yang berada disampingnya. Bagian atas sajadah itu ia sengaja ia letakkan dibagian tempat sujud pemuda tadi. Sang cucu terheran melihatnya. Dan akupun tertegun saat itu. Namun segera kami mencoba menata kembali segala pikiran untuk berupaya dapat mempersembahkan shalat terbaik pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sholat, usai dzikir sejenak, kemudian kakek tua tadi berdiri dan beranjak hingga kemudian berlalu pergi bersama cucu lelakinya. Sekilas masih kudengar pembicaraan mereka ketika meninggalkan tempat sholatnya semula. Rupanya cucu lelakinya masih penasaran dengan tingkah kakeknya yang melipat dua sajadahnya ketika ia sholat sunnat, dan  kemudian membukanya kembali lipatan sajadahnya menjadi dua bagian ketika berjamaah menjelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah artinya islam", sahutnya mengawali penerangannya pada sang cucu.&lt;br /&gt;"Islam itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rahmatan lil'alamiin&lt;/span&gt;, yakni rahmat bagi sekalian alam. Wujudnya adalah dengan ber-Islam, maka salah satunya kita sebagai umatnya harus mampu menjadi rahmat pula bagi semua orang", lanjutnya panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak tahu bagaimana rona wajah serta gerak pikir bocah lelaki tadi menangkap penjelasan dari kakeknya. Namun yang jelas aku begitu malu mendengar apa yang disampaikan kakek tua tadi pada cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, mungkin entah sejak kapan kita mengenal bahkan sampai hapal diluar kepala akan sebuah ungkapan bahwa Islam itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rahmatan li'alamiin&lt;/span&gt;, yang dalam aplikasinya seharusnya memang akan selalu mampu menghadirkan cahaya kedamaian, cahaya rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi orang-orang yang tunduk dan patuh dalam ke-Islam-annya, namun pula bagi semua orang yang ada disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ternyata sepertinya begitu sulit hal itu terwujud dalam keseharian kita. Islam yang memang diturunkan oleh Alloh sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rahmatan lil'alamiin&lt;/span&gt; justru menjadi seakan sulit menjadi nyata. Kita selalu memaksa hari-hari yang kita lalui seakan kembali dan selalu berputar kembali pada satu arah yang sama, dan menempati posisi yang sama pula, kita sebagai ummat-Nya sangat jarang sekali untuk dapat menempatkan diri menjadi bagian dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rahmatan lil'alamiin&lt;/span&gt;, dimana keberadaan kita seharusnya dapat pula menjadi rahmat bagi yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita selalu berusaha untuk tampil sendiri, membusungkan dada, bahkan menyombongkan diri, melihat semua berdasar dari kacamata pribadi dan hanya untuk kepentingan pribadi semata. Kita terbuai dengan rasa individualis yang semakin menjadi dan seolah  menyepak dengan kasar setiap kepentingan orang lain yang kita memandangnya tidak akan berpengaruh pada kepentingan diri ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Na'udzubillah&lt;/span&gt; ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sehelai sajadahpun ternyata bisa menjadi satu jalan untuk membimbing diri kita dalam menunaikan satu kewajiban, untuk mengibarkan panji-panji untuk berbagi dalam indahnya kebersamaan, hingga akhirnya rahmatan lil'alamiin bukan hanya menjadi sebuah slogan semata, atau hanya menjadi satu rangkai kalimat yang selalu dan selalu kita hapal dalam nalar ini saja, namun pula kemudian dapat terealisasi dalam nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, semestinya mungkin hal lainpun juga akan bisa menjadikan diri ini untuk bisa lebih membuka hati, berupaya menjadi bagian dari rahmat-Nya, yang pula bisa menjadi rahmat bagi ummat lainnya. Karena, bukankah disatu waktu nanti, tak akan ada lagi yang pernah dan setia menemani kita, ketika tanah merah telah menutup rapat diri ini, terpisah dari kefanaan dunia. Hingga hanya ia, salah satunya yaitu hanya amalan yang menemani kita pada saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-1200017788784009961?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/1200017788784009961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=1200017788784009961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/1200017788784009961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/1200017788784009961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/01/setengah-sajadah.html' title='Setengah Sajadah'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-4793451653397679457</id><published>2008-01-30T21:08:00.000-08:00</published><updated>2008-02-18T01:38:19.593-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Aisyah Adinda Kita ...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah senandung lama dari group vokal Bimbo yang bertajuk "Aisyah Adinda Kita" masih terasa seakan mengalun mengiringi langkah-langkah kaki. Lirik-lirik indah yang menggambarkan sebuah kepribadian muda wanita shalehah dambaan umat, wanita shalehah penerus dakwah, wanita shalehah yang terlahir dengan segudang prestasi, wanita shalehah yang pandai menjaga kecantikan diri dan hatinya, serta seorang wanita shalehah yang mampu menjadi tauladan bagi wanita-wanita lainnya, seakan terus menggema, mendengung-dengungkan sebuah harapan ummat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari pagi seakan mengintip dari sela dedaunan rindang ditengah pusat kota. Perlahan tiupan angin mengelus halus wajah ini, mengurai pagi memanjakan diri. Beberapa orang tampak lalu lalang dengan kesibukannya menuju tempat aktifitasnya kembali hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat orang gadis remaja berbusana putih dengan bawahan rok selutut berwarna abu, kira-kira berusia enam belas tahunan berdiri di tepian jalan sana. Sambil berbincang, sesekali mereka cekikikan. "Mungkin ada yang lucu dalam perbincangan mereka", gumamku dalam hati. Namun semakin lama, jujur aku merasa risih dengan perbincangan mereka, yang sesekali membuat mereka sampai tertawa lepas. Sesaat kemudian beberapa remaja pria seusianya yang juga mengenakan seragam yang sama menghampiri mereka. Tak ada rasa canggung, tak ada rasa risih, mereka seakan melebihi keakraban dengan seorang saudara. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam&lt;/span&gt; apakah ini hanya pikirku, aku gak tahu ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, sosok seorang wanita muda yang cerdas, santun, serta terbalut dalam hijab diri maupun hatinya seperti yang tergambar dalam lirik-lirik indah senandung tadi hilang dan lenyap begitu saja. Berubah seiring dengan perkembangan zaman yang katanya telah menjadikan tak ada lagi batas beda antara seorang pria dan wanita. Yang justru ternyata banyak orang salah kaprah memahaminya, dengan memaknai sebagai tak adanya perbedaan kebebasan dalam bertingkah dan berucap bahkan bertindak. Padahal yang aku tahu, bahwa seorang wanita itu akan sangat dihormati bila ia mampu tampil dengan segala sisi kelembutan hati dan jiwanya, mampu menjaga sikap dan tingkah lakunya, serta menjaga dari apa yang melekat dalam diri yang telah Alloh karuniakan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat seorang bocah perempuan yang dulu pernah aku temui di sebuah taman bersama keluarganya. Dengan busana muslimah ia sudah tampak sekali kecantikannya. Jujur dengan sekali melihatnya pun, aku sudah bangga dan merasa tenang. Setidaknya kekhawatiran akan sebuah generasi islam yang hilang, terkikis dalam pikirku saat itu. Namun sayangnya justru ternyata itu hanya sebagian kecil dari sekian banyak generasi-generasi masa depan kita. Lebih banyak diantara kita yang menyenangi mereka putri-putrinya tampil dengan berbagai jenis busana mini yang telah mengumbar auratnya. Memang, mereka masih kecil belum sepenuhnya mengerti atas batas norma sebuah susila. Namun, bukankah dengan kita membiasakan mereka tampil dengan seperti itu sama saja dengan kita memberikan satu kebiasaan kurang baik pada mereka? Bagaikan menyokong satu tindak yang justru suatu saat nanti akan merugikan pribadi dari kelembutan dan kesucian jiwa-jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pada akhirnya memang tdak heran jika pada masanya mereka tumbuh, hasilnya seperti sebagian dari empat orang gadis remaja yang sedang berdiri di tepian jalan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika kita sedikit me-relay kembali apa yang tersirat dalam alunan senandung tadi, bukankah memang benar, banyak diantara mereka yang berprestasi justru bermunculan dari kalangan wanita-wanita shalihah yang pandai menjaga diri dan jiwa mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun memang meski dari balik itu semua ada rasa kecewa kita pada mereka yang seakan telah tebuai dalam kondisi zaman, yang senantiasa memanjakan dalam kemodern-an. Tetap, kita tak bisa lepas tangan begitu saja. Meski memang mungkin terlambat. Namun bukankah lebih baik terlambat daripda tidak sama sekali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berusaha menyentuh hati-hati mereka agar kembali menemukan kesucian dan kemuliaan jiwa-jiwa mereka. Hingga saatnya nanti mereka mampu menjadi wanita-wanita yang shalihah dambaan ummat, yang darinya akan terlahir kembali generasi-generasi harapan masa depan. Merengkuh kembali mereka para aisyah, karena andaikan ada sepuluh aisyah yang belum ataupun sudah berpribadi muslimah, ataukah ada seratus aisyah yang belum ataupun sudah berpribadi muslimah, ataukah ada seribu aisyah yang belum ataupun sudah berpribadi muslimah, ataukah ada sejuta aisyah yang belum atau mungkin sudah berpribadi muslimah, maka tetap ... mereka adalah Aisyah adinda kita ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-4793451653397679457?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/4793451653397679457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=4793451653397679457' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/4793451653397679457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/4793451653397679457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/01/aisyah-adinda-kita.html' title='Aisyah Adinda Kita ...'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-4924592816624398176</id><published>2008-01-30T21:07:00.000-08:00</published><updated>2008-01-30T21:08:38.315-08:00</updated><title type='text'>Entah Dimanakah Kita?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, ada rasa takut yang menelusup kedalam jiwa ini. Ada rasa gentar yang merasuk kedalam dada ini. Entah, mungkin ini lebih dari hanya sebuah peringatan yang memang begitu indah dari-Nya untuk diri ini. Ketika nafas tak lagi bisa berhembus, ketika nadi tak lagi bisa berdenyut, ketika jantung tak lagi bisa berdetak, ketika semuanya satu persatu terlepas dari raga ini, maka tinggalah diri ini menghadap satu lagi kuasa-Nya dan berpindah menuju satu babak baru dalam barzah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada beberapa hal yang menyadarkan diri di hari ini, ternyata kita begitu lemah dalam kemahaan-Nya. Pagi, ketika matahari belum menampakkan diri, Izrail telah lebih dulu menunaikan tugasnya. Memanggil kembali seorang istri dari seorang guru kami, begitu banyak orang berbondong-bondong untuk melayat dan melepas kepergiannya, mulai dari rakyat jelata, hingga para penguasa. Beberapa jam berselang, sebuah kecelakaan tragis menimpa seorang karyawan yang hendak memarkir mobilnya, hingga ia menemui akhir hayatnya dan mobilnya hancur, remuk jatuh dari lantai delapan sebuah menara. Orang-orangpun berbondong mendatanginya, setidaknya mungkin untuk memastikan bahwa yang terkena musibah itu bukan bagian dari keluarga dekat mereka. Lalu, beberapa waktu yang lalu, masih hangat dalam ingatan, ketika seorang kakek terbujur kaku setelah meregang ajal di sebuah ruang kumuh ditepi sebuah rel kereta api. Tak ada yang peduli padanya, jangankan sanak saudara, mereka yang datangpun hanya bisa menutup hidungnya lalu berlalu begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan ada satu diantara kita yang mampu mengetahui kapan usainya batas kisah kita di dunia yang fana ini, mungkin kita akan sebaik-baiknya bersiap ketika nanti di satu masa Izrail menampakkan dirinya. Namun, itulah kuasa Alloh, semua rahasia-Nya hanya tercatat dalam lembaran demi lembaran lauh mahfuz, yang tak seorang hamba-pun mengetahui dari isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan baik ataupun tidak akhir kisah dari kehidupan yang diamanahkannya itu pada diri ini, ternyata juga ada satu benang merah dengan apa yang telah kita perbuat dalam menjalaninya. Memang benar, Alloh maha kuasa untuk menunjukkan berjuta kehendaknya. Kapanpun itu, entah di duniakah atau di akhiratkah nanti. Namun yang jelas, sebagai satu peringatan bagi hamba-hamba lainnya, tak jarang Ia tampakkan kuasanya dalam menutup rangkaian episode seorang hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang kini menyeruak dalam dada ini, sebuah tanya, sebuah tanya yang tak seorangpun tahu akan apa jawabnya. Satu hal yang akan selalu menjadi sebuah renungan bagi diri-diri yang sedikit mau bermuhasabah akan segala tindak dan tapak dirinya selama mengarungi perjalanan panjang kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, dimanakah nanti kita melepaskannya nyawa ini? kapankah itu? atau mungkin sedang apakah itu? bersama siapa saat itu? Semua hanya terkumpul menjadi satu, dalam sebuah balut tanya, yang tak sedikitpun terbuka celah daripadanya. Wallahu'alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, begitu berat dada ini, setiap kali kita mencoba merasakan kembali saat-saat dimana nanti harus rela berpisah dengan mereka orang-orang yang kita sayangi. Begitu sesak nafas ini setiap kali kita mencoba merasakan saat-saat dimana kini kita begitu asyik berada dalam satu arena. Yang padahal arena tersebut hanyalah sebuah fatamorgana, yang setiap waktu dapat hilang dan kembali terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang benar. Satu waktu, perlu kita pergi, mencoba menyendiri. Dan lari dari beribu, berjuta bahkan bermilyar agenda yang senantiasa menghiasi ruang gerak dan langkah hidup ini. Pergi menuju sebuah tanah lapang, dimana disana hanya berdiri pasok-pasok bambu dan kayu bertuliskan nama. Dan duduk bersila, untuk sejenak melepas dan mencoba mencari dimanakah kini orang-orang hebat itu berada? Orang-orang hebat yang dulu pernah ada dengan segala ketenarannya, orang-orang hebat yang dulu pernah ada dengan segala kepintarannya, orang-orang hebat yang dulu pernah ada dengan segala kesibukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, siapapun kita, kini ataupun nanti, cepat ataupun lambat ketika waktu berlalu hanyalah akan meninggalkan sebuah nama beserta seonggok jasad kaku, yang perlahan menjadi santapan binatang tanah. Yang mungkin jika kita sedikit bisa berbuat bagi orang lain, akan menjadikan satu kehilangan yang teramat sangat akan keberadaan kita bagi mereka. Hingga derasnya tangis tak mungkin dapat terbendung dalam hati sanubarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-4924592816624398176?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/4924592816624398176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=4924592816624398176' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/4924592816624398176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/4924592816624398176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/01/entah-dimanakah-kita.html' title='Entah Dimanakah Kita?'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-3923980518106587085</id><published>2008-01-30T21:06:00.000-08:00</published><updated>2008-01-30T21:07:10.577-08:00</updated><title type='text'>Berlomba Mendulang Pahala!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari memang masih terlalu pagi. Jarum jam baru bertambat diangka tiga dini hari. Namun suasana di luar sana sudah mulai riuh oleh berbagai aktifitas para tetangga. Disebelah dua kamar mandi yang tersedia sudah mulai berderet  antrian dari mereka. Sementara aku yang alhamdulillah bisa terbangun lebih dulu dari mereka hanya bisa menohok dan terpaku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semilir angin dingin ternyata kini mulai berubah seiring dengan hangatnya nuansa. Sejenak sayup terdengar alunan-alunan suci dari mushola yang ternyata harus berlomba dengan deru beberapa kendaraan yang mungkin sudah mulai menghiasi kembali keramaian ibu kota. Tidak seperti di kampung dulu, dimana saat-saat itu biasanya orang lebih asyik bercengkrama dalam pertemuan dengan-Nya, Rabb sang maha kuasa, disini ternyata orang-orang malah lebih disibukkan oleh segudang aktifitas dan berbagai rencana yang akan dilaluinya dalam satu harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai sholat shubuh, halte-halte bis sudah mulai terisi, di shelter-shelter busway sudah terdapat banyak juga antrian panjang, sementara itu lalu lalang berbagai kendaraan, udara yang kian memanas, mentari pagi yang sering kali terlalu sulit untuk tersenyum ramah, kini mulai memenuhi halaman pertama di satu bagian kisah setiap orang. Sesekali mereka melirik ke arah jam tangan yang mereka lilitkan ditangannya, sambil kemudian melongo kearah kanan memastikan kendaraan yang mereka tunggu muncul di kejauhan sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pak tua yang baru saja selesai wirid selepas shubuh tadi keluar dari teras masjid, lalu ia berdiri, untuk kemudian menggelengkan kepalanya setelah memandang sekilas ke arah kami. Entahlah, rasanya ada yang menusuk kedalam dada ini ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bis tiba, beberapa orang yang tidak sabar segera menghambur ke arahnya. Tidak sedikit orang-orang yang rela berdiri didalamnya, berjejal dan berlomba menghirup sisa-sisa oksigen yang mungkin semakin sedikit saja yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di tempat kerja, ternyata lebih dahsyat lagi. Berperang dengan konsentrasi dan cepatnya waktu, kita seakan berada dalam satu dimensi yang tak pernah berakhir. Satu dimensi yang selalu berputar-putar dalam satu gerak yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu saja begitu, dari hari ke hari persaingan semakin memposisikan diri kita untuk merasa sulit untuk hanya keluar daripadanya. Bagai satu cengkraman sang raja hutan, yang tak mungkin lagi bisa terlepas sempurna. Kita hanya mampu berkilah, bahwa semua itu hanya demi sebuah upaya dalam mempertahankan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir, andaikan semua itu juga berlaku dalam satu sisi keimanan kita. Dimana perjuangan mengumandangkan kalimah-kalimah thayibah serta perjuangan menegakkan panji-panji Islam. Subhanalloh ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fastabiqul khairaat ...!!!", berkali-kali sang Rasul berpesan pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah panggilan suci untuk berlomba-lomba dalam menegakkan kebaikan, berlomba-lomba dalam mencegah kemungkaran, serta belomba-lomba dalam mendulang pahalanya dari ia sang maha kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak bibir ini terasa kelu. Sebuah gundah segera menggelora dalam dada. Mengungkapkan tanya, mengapa kita bisa bersaing dalam menggapai sisi duniawi?, sementara beribu, berpuluh ribu, beratus ribu bahkan berjuta pintu untuk bersaing dalam kebaikan telah terbuka lebar dihadapan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang ternyata kita terlalu sering terlupa. Berbuat sempurna untuk berbagai hal yang berhubungan dengan keduniawian kita, tapi jarang atau mungkin tidak pernah sama sekali berbuat maksimal untuk bekal akhirat kita. Mengorbankan setiap tetes keringat dan semangat untuk meraih kesuksesan meniti karir. Namun selalu berpikir dua kali ketika sebuah gerbang kebaikan telah menganga. Padahal insyaAlloh jikalah Ia berkehendak, bukankah dengan izin-Nya niscaya hanya dengan satu katapun, Ia mampu mewujudkan segala kesuksesan diri ini, baik untuk dunia maupun akhiratnya pula?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, terlepas dari itu semua. Semoga apapun yang telah kita perbuat dalam hidup ini, sebuah niat suci serta tulus ikhlas hanya berharap akan rahmat dan ridha-Nya, semoga pula mengantarkan diri, bukan hanya sebagai pesaing sejati dalam mengarungi kehidupan dunia ini, namun pula seorang pejuang tangguh untuk meraih rahmat dan cinta kasih-Nya. Sehingga kita termasuk satu diantara mereka, hamba-hamba yang kekal dalam surga-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aamiin yaa robbal'alamiin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-3923980518106587085?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/3923980518106587085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=3923980518106587085' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/3923980518106587085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/3923980518106587085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/01/berlomba-mendulang-pahala.html' title='Berlomba Mendulang Pahala!'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-8918519550623264359</id><published>2008-01-13T20:51:00.000-08:00</published><updated>2008-01-13T20:53:12.256-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Berbekal Sempurna!</title><content type='html'>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismilllaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, hampir selalu tak pernah ada rasa tak tenang jika kita berada bersama dengan orang-orang yang selalu tak lupa dengan berbagai perbekalan, dimanapun mereka berada. Kapanpun itu. Bahkan andaikan dalam sebuah perjalanan panjang dan melelahkan sekalipun, jika kita berada bersama dengan mereka, maka jarang kita menemukan kesulitan atas beberapa kebutuhan pribadi kita yang terkadang justru malah diri kita sendiri yang terlupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pula saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perjalanan panjang yang melelahkan telah mengantarkan kami menemui satu babak episode kesyukuran atas segala rahmat dan karunia ciptaan-Nya. Hingga membawa diri ini pada decak kagum serta urai tasbih akan ke-mahaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamparan indah alam raya, berbalut sejuknya nuansa pegunungan telah mengurai satu persatu resah dalam dada ini. Betapa tidak, eloknya suasana telah mampu melepas satu demi satu beban yang selama ini seakan senantiasa hadir dan membuntuti dalam urai kisah kehidupan. Hingga kemudian beban-beban itu perlahan hilang dan bahkan menjadikan diri ini terasa kembali dalam suasana bening hati. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alhamdulillah ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertemuan yang digelar meskipun sederhana namun tetap enak untuk kami nikmati. Beberapa rangkai acara berjalan sesuai dengan rencana. Hingga saatnya dalam satu kesempatan yang ada ternyata kami terlupa akan satu perbekalan yang justru sedikitpun tak pernah kami teringat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami sempat bingung. Namun, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alhamdulillah &lt;/span&gt;ternyata salah seorang diantara kami telah menyiapkan bekal tersebut, meskipun memang pada mulanya itu ia tujukan untuk bekal dia pribadi, namun ternyata bermanfaat juga bagi orang lain. Dia memang seorang yang terlalu apik dalam menyiapkan segala sesuatu. Hampir dalam setiap kesempatan ia selalu hadir dengan berbagai antisipasi perbekalan jika diantara kami ada yang terlupa tidak membawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya acarapun bisa berlangsung kembali dan terlaksana hingga ke penghujungnya. Mengalir seperti air sungai yang mengalir, dan berakhir hingga sampai ditepian muara akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang menarik ketika aku sendiri menyadari semuanya. Ketika keberadaan kita bersama dengan mereka yang selalu siap sedia dengan perbekalan yang sempurna, ternyata bisa menjadikan satu hal yang tadinya aku kira tak akan lagi bisa berlanjut terlaksana menjadi tetap berada sesuai dengan alur rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mereka yang selalu berbekal sempurna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian aku sendiri merasa malu, ketika mencoba mentafakuri atas apa yang menimpa diri ini. Menimpa raga ini. Menimpa jiwa ini yang telah Alloh amanahi satu usia untuk melaksanakan satu kisah perjalanan panjang menuju akhirat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, betapa banyak bekal kita yang terlupa untuk kita bawa, ternyata betapa banyak pula dalam sisa-sisa usia kita melalaikan semuanya. Seakan diri telah siap sedia dengan segala yag telah ada. Hingga terlalu angkuh dan penuh percaya diri untuk menapak kehidupan di alam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisinya adalah mungkin kita tidak atau belum menyadari sepenuhnya, bahwa saatnya nanti kita akan sendiri-sendiri. Terkadang kebiasaan kita dengan terlalu bergantung pada orang lain telah menjadikan diri terlupa dengan kesiapan diri pribadi. Padahal, andaikan kita mau sedikit bermuhasabah diri. Andaikan kita mau sedikit mengingat kembali. Bahwa saat kelak di dunia kekal kehidupan kita yang sebenarnya, akhirat nanti, tak akan ada lagi pengertian dan perhatian diantara kita. Semua akan amat sangat bergantung atas apa yang telah kita persiapkan sendiri jauh-jauh hari ketika kita masih di dunia fana sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Nuh sang Rasul Alloh-pun tak akan bisa merangkul anaknya untuk bersama dalam surga-Nya? Bukankah Luth sang Nabi Alloh-pun tak pula bisa memapah istrinya menuju kenikmatan jamuan Alloh dalam surga-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita masih berharap belas kasih dan kesiapan perbekalan orang-orang shaleh disekitar kita, tanpa sedikitpun kita mempersiapkannya untuk diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, karena disaat itulah nanti tak seorangpun diantara kita untuk dapat lagi saling membantu, untuk dapat saling memberi. Tak bisa. Semua hanya bergantung pada amalan masing-masing diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi masih ada usia, semoga kita masih bisa mempersiapkan kembali segala hal perbekalan untuk menuju kehidupan kekal di akhirat sana. Hingga nanti tak ada rasa sesal atas semua yang terasa teramat cepat berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb, bimbinglah kami ini untuk bisa berbekal sempurna, untuk kehidupan dunia dan akhirat kami nanti ...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aamiin yaa robbal'alamiin ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-8918519550623264359?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/8918519550623264359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=8918519550623264359' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/8918519550623264359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/8918519550623264359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/01/berbekal-sempurna.html' title='Berbekal Sempurna!'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-6201091170831181024</id><published>2008-01-08T01:00:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T01:02:06.508-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Ternyata Kita Terlalu Mudah Terlupa</title><content type='html'>Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahimm,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ponsel ini berdering. Tidak tertera nama dalam screen-nya, nomornya-pun tidak dikenal. Aku angkat, lalu sebuah suara mengucap salam dikejauhan sana. Aku masih tertegun setelah sesaat kemudian menjawab ucapan salamnya. Subhanalloh, ternyata seorang sahabat lama yang entah sudah berapa lama tak pernah ada lagi kabar berita, bahkan terlalu sulit pula untuk aku hubungi, kini telah kembali untuk menghulur tali silaturahim ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alhamdulillah ..", gumamku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian aku tersenyum jika mengingat semua itu. Mengingat semua yang telah menjadikan tali silaturahim itu sempat menjauh bahkan hampir terputus. Hanya karena sebuah ego. Ego yang telah merebut akal sehat dari masing-masing diri ini. Ego yang telah bertambat dan berdiri angkuh diatas sejuta nafsu. Ego yang hingga lama berselang waktu telah mengekang diri ini dalam kesunyian dan kehampaan satu ikatan yang dulu pernah ada. Yaa Rabb, ampunilah kami ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yang telah terlena dengan satu pandangan sebelah mata. Yang telah begitu mudahnya melupakan segala kebaikan yang ada. Bahkan begitu mudahnya pula menggantinya dengan menjulangkan segala keburukan atas diri-diri mereka untuk kemudian merajai hati ini, dan mengganti semua rasa persaudaraan yang ada menjadi sebuah rasa dan benci. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Naudzubillaah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, ternyata kita terlalu mudah terlupa. Terlupa akan segala kebaikan yang telah dilakukan orang lain untuk kita. Bahkan sedihnya adalah ternyata kita justru lebih sering mengingat sikap buruk mereka daripadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sepertinya memang berbalik 180 derajat dengan apa yang ada dalam diri ini. Dimana justru ternyata kita akan lebih menjulangkan rasa tinggi hati atas segala amal kebaikan yang kita lakukan pada mereka, tanpa sedikitpun mencoba mengingat betapa banyak sebenarnya sikap buruk yang mungkin secara sengaja ataupun tidak ternyata telah kita persembahkan pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm......"&lt;br /&gt;Aku menarik nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian teringat cerita negeri ini. Berkaca dari kisah dan belajar dari sejarah. Dimana hampir setiap kali tumpu kekuasaan berakhir, selalu saja diakhiri dengan satu akhir yang tak sempurna. Tak ada akhir yang indah daripadanya. Yang ada hanyalah kebencian-kebencian, yang ada hanyalah kekecewaan, bahkan pula yang ada hanyalah hujatan atas segala keburukan daripadanya. Berapa banyakpun jasa-jasa mereka para pendahulu negeri ini, selalu akan berakhir dan berlalu serta berganti dengan satu rasa benci. Yang anehnya rasa itu sepertinya tak pernah lengkang dari sejarah. Seperti terpatri dalam setiap diri anak negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah itu tak jauh beda dengan kondisi diri ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seolah larut dan dengan segera berhambur mengubur segala kebaikan daripada mereka yang padahal mungkin telah lebih banyak berbuat bagi diri ini, hanya karena satu ataupun dua keburukan yang ada padanya. Kita seolah mengunci mati hati ini ketika satu kecewa telah membuncah dalam dada. Kita seolah berhenti dan tak pernah mau melangkah lagi menapak hari-hari bahkan meskipun hanya untuk menjunjung satu asa manusiawi dalam diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ini tak adil? Bukankah tak sepatutnya jika kita hanya memandang sebelah mata atas apa yang ada? Bukankah ini semua hanya akan mengantarkan kita pada satu ke-ego-an diri yang semakin menjadi? Dan kita baru tersadar setelah sekian lama nanti, dimana sementara itu tak satupun setan yang tak tertawa terbahak serta riuh bertepuk tangan atas segala kelalaian diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kini saatnya kita berbenah diri, berbenah hati. Mencoba lebih banyak mengingat kebaikan orang lain daripada kebaikan yang kita lakukan, serta lebih banyak mengingat keburukan kita daripada keburukan orang lain sebagai introspeksi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-6201091170831181024?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/6201091170831181024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=6201091170831181024' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/6201091170831181024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/6201091170831181024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/01/ternyata-kita-terlalu-mudah-terlupa.html' title='Ternyata Kita Terlalu Mudah Terlupa'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-7892421333534241066</id><published>2008-01-03T23:17:00.000-08:00</published><updated>2008-01-03T23:22:30.888-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><title type='text'>Tersenyum Ketika Semestinya Menangis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R32unQoKCEkAAD1JXdI1/smile.jpg?et=CJwZsotziNv82KBJ0oyCJQ&amp;amp;nmid="&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R32unQoKCEkAAD1JXdI1/smile.jpg?et=CJwZsotziNv82KBJ0oyCJQ&amp;amp;nmid=" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pintu kaca itu terbuka, aku hentakkan langkah diatas lantai berlapiskan karpet beludru itu. Pancaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;air conditioner&lt;/span&gt; segera menyergap tubuh ini, memancarkan kesejukan setelah diri ini disuguhi panasnya udara di luar sana. Sejuk. Dan kini aku mampu menghirup sebuah kesegaran baru yang kini mulai menggelayuti seluruh raga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sapaan hangat sesaat kemudian telah menanti diri didepan sebuah meja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;front office&lt;/span&gt; sebuah gedung megah disatu titik kota Jakarta. Sebuah senyuman tak terlewatkan mengiringinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat pagi mas, apa kabarnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa santun ditelinga ini, gaya bicaranya layaknya seorang yang telah begitu akrab dengan kami para pengunjung setia gedung tersebut. Tanpa beban, tanpa gurat kesedihan ataupun juga garis kepiluan dalam setiap tutur kata dan bicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku tak pernah tahu dibalik semua itu, dibalik senyumannya, dibalik santun bicaranya, dan dibalik keakraban gaya sapaannya. Hanya do'a semoga memang mereka senantiasa berada dalam kondisi yang sama antara apa yang tampil di raut muka dengan apa yang ada dalam hati serta pikir mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin satu waktu kita bisa memahami bahwa itu memang sebuah tuntutan profesionalitas pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Untuk bisa tersenyum disaat mungkin kesedihan melandanya. Untuk bisa ceria disaat kepedihan menghantui sanubarinya. Dan secara tidak langsung ternyata memang itupun yang selalu kita tuntut hadir dari mereka, meski hanya untuk sekedar memberikan satu penghibur jiwa, disaat segala masalah berderet menjadi satu pasukan yang datang silih berganti kedalam gerbang diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu tanya adalah, pernahkah diwaktu yang sama kitapun mencoba untuk mengerti mereka?, bukankah selayaknya kitapun mengerti bahkan memahami bahwa merekapun tak beda memiliki apa juga yang kita miliki baik itu hati ataupun jiwa. Yang setiap saat bisa luluh dan tersimpuh dalam segala dera masalah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat sebuah buku yang mengisahkan tentang mereka yang bernasib sama. Dimana lagi-lagi sebuah tuntutan profesionalitas kerja memaksa untuk dapat mampu berbuat seperti itu. Dimana bibir tersenyum walaupun sebenarnya hatinya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menjadi satu ironi adalah apakah layak keberhasilan mereka untuk dapat menjaga penampilan mereka dihadapan kita, memberikan satu kecerian dalam hari-hari kita, memberikan satu kesan kesejukkan dalam rona-rona masalah yang ada dengan tetap berusaha tersenyum ramah kita nilai bak sebuah nilai kemunafikan? Sebuah nilai penipuan berhiaskan tebar pesona?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat diujung pelupuk mata ini terasa basah dengan sebuah tetes air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena aku terlalu lemah untuk menerima pandangan mereka. Bukan karena aku merasa kalah dengan segala sudut pandang mereka yang berujar demikian. Ataupun bukan karena aku terlalu egois untuk mempertahankan sebuah cara pandang dan emosi diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berpikir, begitu naifnya kita yang dengan mudahnya menghunjamkan sebuah tusukkan atas segala kesabaran mereka dengan sebuah umpat atau cibiran untuk menguatkan ungkapan bahwa mereka orang-orang yang pandai bermunafik ria. Pandai bermuka dua. Bahkan pandai membolak balikkan fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal bukankah ia, sang Iman Ali bin Abi Thalib -pun penah berpesan pada kita, untuk bisa selalu berbuat sesuatu yang dapat menggembirakan orang lain sebagaimana yang kita harapkan pula hal itu datang pada diri kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang demikian, maka bukankah selayaknya mereka juga telah memberi satu tauladan bagi kita untuk senantiasa berbuat yang sama. Menampilkan diri tetap ceria meskipun deru masalah masih tetap menggelayuti asa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita dapat dapat senantiasa mengambil satu demi satu hikmah dari setiap apa yang kita lalui. Sehingga kehidupan yang mengiringi langkah ini senantiasa berbuah barokah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aamiin yaa robbal'alamiin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini juga dimuat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;di &lt;a rel="nofollow" href="http://eramuslim.com/atk/oim/8104110033-tersenyum-ketika-semestinya-menangis.htm"&gt;ERAMUSLIM&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-7892421333534241066?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/7892421333534241066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=7892421333534241066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/7892421333534241066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/7892421333534241066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2008/01/tersenyum-ketika-semestinya-menangis.html' title='Tersenyum Ketika Semestinya Menangis'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-7899898902733633859</id><published>2007-12-28T17:39:00.000-08:00</published><updated>2007-12-28T17:40:46.366-08:00</updated><title type='text'>Karena Aku Bukan Fahri !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R1-JbwoKCEkAAGM7gDU1/fahri.jpg?et=UcttLmS%2C6o62rQPfwH5lVA&amp;amp;nmid="&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R1-JbwoKCEkAAGM7gDU1/fahri.jpg?et=UcttLmS%2C6o62rQPfwH5lVA&amp;amp;nmid=" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara memang begitu panas. Matahari tak kalah teriknya bersinar dan menari-nari diatas kepala. Sesekali terpaan angin menghembus menusuk badan seakan mengepulkan asap dan menyemburkan aroma bau dari neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan sempit berukuran 3x3 meter telah menghimpit ruang waktu dalam satu sisi hidup. Aku berjalan menuju arah jendela, tidak lebih dari tiga langkah dari tempat awalku berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana aku dapat melihat bangunan kotak-kotak, namun bukan bangunan kotak berwarna putih, hanya bangunan kotak yaitu gedung-gedung perkantoran yang berlapis kaca. Ya... karena ini bukan flat-nya fahri di negeri kinanah sana, namun ini hanya kamar kontrakanku yang berada diantara sekian bangunan yang terhampar di kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rebahkan tubuh ini. Sesaat kemudian keringat mengalir dari sela-sela pori seakan sebuah mata air yang meliuk diatas tanah yang gersang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah dering berbunyi dari ponselku, aku baca, ternyata sebuah alarm pengingat atas sebuah janji yang pernah aku buat dengan seseorang. Ah, aku hampir terlupa. Ya... itu karena aku bukan Fahri, yang senantiasa memperhitungkan segala rencana yang akan ia lakukan dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranjak dan berkemas. Tidak ada kacamata hitam, tidak ada tas cangklong yang biasa menemani seorang Fahri, hanya sebuah tas ransel berwarna hitam yang kini melekat di punggung serta sebuah kacamata bening berbingkai yang sesaat kemudian berada di wajahku. Ya... itu karena aku bukan Fahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di halaman, tidak ada suara Maria yang memesan dibelikan disket dari arah atas kamar kost-ku, karena tak ada lagi kamar diatas kost-ku. Lagi-lagi aku katakan bahwa itu karena aku bukan Fahri, yang memiliki tetangga dari kalangan kristen koptik yang sangat menaruh hormat pada tetangganya. Tetanggaku hanya sepasang suami istri yang kamar kost-nya berada disamping kamarku, perbincangan kamipun tak banyak tercipta karena mungkin entah aku ataupun mereka terlalu sibuk dengan masing-masing aktifitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari masih menyala-nyala, menebarkan aroma bau dari neraka. Aku berjalan menuju sebuah masjid hendak menunaikan dzuhur yang sesaat lagi akan menjelang. Sesaat kemudian dzuhur tiba. Tak ada syeikh muda yang dengan tegapnya memimpin kami sholat berjamaah, hanya seorang ustadz tua yang sesekali mesti terbatuk dalam sela-sela gerakan shalatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berjamaah aku lanjutkan perjalanan menuju sebuah halte dan menunggu sebuah metromini yang akan membawaku menuju sebuah tempat pertemuan. Tidak ada metro, tidak ada seorang kapten yang menjual karcis untuk menaiki metro. Yang ada hanyalah seorang bapak yang telah berkeluh dengan keringat menghampiri kami satu persatu penumpang, menagih ongkos perjalanan dari kami. Aku sadar betul ini semua, ya... ini karena aku bukan seorang Fahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama aku berada didalamnya tak ada tiga orang bule berpakaian dengan corak bendera amerika masuk kedalam metromini. Hanya seorang kakek tua yang dipapah oleh seorang bocah kecil menuju sebuah kursi didepan sana. Ah... aku makin mantap, ini karena aku bukan seorang Fahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang akhwat berjilbab masuk. Ia hanya terdiam. Tak ada percakapan dalam bahasa Inggris yang fasih, tak ada perkenalan darinya bahwa ia berasal dari negeri Jerman. Sesaat tak lama kemudian ia turun kembali. Hanya sebentar. Dan itu cukup memperkuat pernyataanku, bahwa ia bukan Aisha. Ya... karena akupun bukan seorang Fahri, gerutuku dalam hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama perjalanan tak ada mahasiswa-mahasiswa yang dengan khusyuk dan asyik membaca mushaf Al Quran, menghapalnya berulang-ulang dalam sela waktunya. Yang ada hanya obrolan-obrolan yang entahlah akupun tak begitu memahaminya. terlalu banyak istilah yang terasa asing dalam pendengaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai ditempat yang telah dijanjikan aku menunggu untuk beberapa waktu. Menunggu dan menunggu. Sampai akhirnya waktu telah banyak berlalu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar, ini bukan cerita itu. Dan akupun bukan seorang Fahri yang mendatangi seorang Syeikh Utsman untuk talaqi Qira'ah Sab'ah. Dan ia yang telah membuat janji denganku pun bukan ia, syeikh Utsman yang meski dalam cuaca begitu panasnya, namun masih tetap memegang teguh janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya aku kembali dengan tangan hampa. Kembali menuju satu ruangan 3x3 meter yang telah menghimpit satu ruang waktu dalam hidupku. Hingga menyadarkan sepenuhnya bahwa aku bukan Fahri ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku kembali terdiam. Haruskah kita hanya selesai berkata, bahwa kita bukan dia seorang yang memiliki banyak sikap dan sifat terpuji, yang padahal sepatutnya untuk kita teladani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya ketika kita berbicara tentang ia sang Rasul Alloh, kita hanya berhenti berujar bahwa kita tak mungkin bisa mengikuti kemuliaan akhlak beliau tanpa kita pernah mencoba untuk mengikuti jejak langkahnya? Mengikuti jejak langkah orang lain tak ada salahnya selama apa yang kita ikuti adalah suatu hal yang memang pantas untuk kita teladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kuatkan dan azzamkan dalam hati. Kita mulai dari diri sendiri untuk berusaha mengikuti jejak-jejak langkah orang yang patut kita teladani, tanpa kita menghilangkan identitas diri sebagai pribadi diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-7899898902733633859?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/7899898902733633859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=7899898902733633859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/7899898902733633859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/7899898902733633859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2007/12/karena-aku-bukan-fahri.html' title='Karena Aku Bukan Fahri !'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-5003952975490183697</id><published>2007-12-25T18:59:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T19:00:58.723-08:00</updated><title type='text'>Selagi belum dewasa !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R3HA8QoKCEkAADqU-6A1/pohon.jpg?et=Y6UqyWdKU7ehw%2B20prgz%2CA&amp;amp;nmid="&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://images.dik2.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/R3HA8QoKCEkAADqU-6A1/pohon.jpg?et=Y6UqyWdKU7ehw%2B20prgz%2CA&amp;amp;nmid=" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillaahirrahmaanirrahiim,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis memulai hari di pagi ini. Awan hitam menggelayut diantara bentangan luasnya mayapada. Semilir angin lembut menghempas butiran-butiran halus titik air hujan menyapa wajah. Matahari pagi tersipu malu sembunyi dibalik kesunyian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah dan hentakkan kaki membawa diri menelusuri satu demi satu jejak langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bapak dengan tekunnya memilah satu demi satu tanaman hijau yang menghiasi taman itu. Gerak tangannya seolah tidak asing lagi untuk memilih tanaman mana yang mesti dicabut, atau tanaman mana yang mesti dibiarkan tetap tumbuh menghiasi hari-hari dan suasana hati kami yang terbiasa melewati taman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tonggak ia pancangkan di tepi sebuah pohon kecil disudut sana. Kemudian sebuah tali ia ikatkan melilit batang kecil pohon itu untuk kemudian ia ikatkan pula pada tonggak yang telah terpancang tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi pak", sapaku&lt;br /&gt;"Eh ..., pagi mas", jawabnya sambil tak lupa menyunggingkan senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramah, dan tak pernah terlewat menjawab setiap sapaan orang-orang yang menyapanya. Meskipun terkadang ia tetap harus sibuk mengurusi tanaman-tanamannya, namun ia selalu sempatkan untuk tidak mengecewakan orang-orang yang menyapanya dengan menolehkan muka, menjawab sapa dan menyunggingkan senyuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok pohonnya diikat pak?"&lt;br /&gt;"Iya nih mas, pohonnya bandel, disuruh lurus malah bengkok"&lt;br /&gt;"Wah bapak bisa saja ... "&lt;br /&gt;Sesaat kemudian kami berdua tertawa.&lt;br /&gt;"Selagi masih bisa dibuat lurus, makanya saya coba ikat mas", lanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum, sepertinya sederhana namun ternyata apa yang ia katakan penuh makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat, satu waktu aku pernah memperhatikan seorang bocah laki-laki berusia tak lebih dari tiga tahunan. Gayanya tak jauh berbeda dengan seseorang yang saat itu ada disampingnya, aku kira ia mungkin bapaknya. Berambut ikal namun dicat agak keemasan. Tingkah polahnya-pun tak jauh berbeda, berlagak seorang preman dengan lengan baju digulung sampai di atas sikut tangannya, serta kedua tangan diselipkan dipinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih miris adalah ketika aku harus rela sesekali mendengar dari bibir manisnya keluar umpatan-umpatan kasar yang tidak sama sekali pantas diucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana aku mengerti, bahwa apa yang kita inginkan dan kita harap dari generasi penerus kita adalah tergantung dari apa yang kita contohkan pula pada mereka, tergantung dari apa yang kita tanamkan pada mereka, bahkan pula tergantung dari apa yang kita ikatkan dalam diri-diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik ataupun buruk sikap atau kepribadian mereka akan sangat bergantung kepada didikkan kita ketika mereka masih berada dalam satu masa pertumbuhan atau bahkan jauh sebelum itu. Bukankah seorang ibu yang menginginkan anaknya hafal Al Qur'an pun, biasanya pula berusaha menghafal al Qur'an pula ketika sedang mengandung janinnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ketika jiwa-jiwa itu mulai tumbuh, dan hari-hari mulai menghiasi kehidupan mereka generasi kita. Sentuhan, belaian, serta kasih sayang kita dalam menuntun kisah hari-hari mereka akan sangat mereka perlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan andaikan semua itu sudah berlalu. Dan baru kita sadari ketika mereka sudah terlalu sulit lagi untuk kita bimbing menjalani hari-harinya lagi, seperti halnya batang pohon yang sudah teralu tinggi dan membengkok yang sulit untuk kita jadikan lurus kembali, jangan seutuhnya dan sepenuhnya kita salahkan mereka. Apalagi kemudian kita hanya mampu berdiri dengan wajah tanpa dosa mengangkat bahu serta kedua belah tangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebuah renungan buat kita, "Apa yang dapat kita berikan untuk mereka, selagi mereka belum dewasa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu'alam bish-shawab&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-5003952975490183697?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/5003952975490183697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=5003952975490183697' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/5003952975490183697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/5003952975490183697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2007/12/selagi-belum-dewasa.html' title='Selagi belum dewasa !'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-356542306917520361.post-5078027392637849689</id><published>2007-12-18T20:50:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T20:55:39.848-08:00</updated><title type='text'>Semestinya memang kita satu !</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_U4T5ZfBt-pQ/R2ikQlLEZ1I/AAAAAAAAABQ/KXN9p2VzwCs/s1600-h/DSC03411.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_U4T5ZfBt-pQ/R2ikQlLEZ1I/AAAAAAAAABQ/KXN9p2VzwCs/s200/DSC03411.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145543179034191698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba kita bayangkan seandainya Islam bersatu ...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kalimat yang membawa kita kepada harapan akan kembali bersatunya sebuah kekuatan menuju kejayaan Islam. Tidak ada perbedaan yang menjadikan perpecahan umat, tidak ada keributan yang hanya mempersoalkan cara beribadah yang berlainan ataupun tidak ada peng-klaim-an bahwa saya-lah yang paling benar dan paling betul dalam menjalankan agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi mungkinkah ?", wallahu'alam ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seandainya kita bercermin pada satu hal yang cukup menarik untuk kita perhatikan di sore kemarin (Selasa, 10 Juli 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang membuat saya bangga, ketika satu waktu disaat yang sama bangsa Indonesia bersatu padu mendukung Tim Merah Putih di ajang Piala Asia 2007. Tidak ada para bobotoh yang mengeluk-elukkan Persib Bandung, tidak ada The Jak yang mengidolakan Persija Jakarta, semua bersatu ... hanya satu mendukung Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika melirik pada beberapa waktu terakhir, ketika kadang sepak bola hampir saja memecah belah persatuan bangsa. Kompetisi nasional Liga Indonesia yang mempertandingkan tim-tim sepak bola kebanggaan dari seluruh pelosok tanah air, telah menjadikan rasa memiliki yang berlebihan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua meng-klaim bahwa tim kami-lah yang paling layak untuk berada di posisi sang jawara. Berbagai dukungan diberikan agar keinginan tim kebanggaannya dapat meraih kemenagan. Tidak jarang keributan terjadi ketika tidak seorang pun harus rela mengakui saat tim kebanggaan mereka itu kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menjadi sebuah renungan bagi kita, ummat Islam. Kita saksikan berpuluh, bahkan mungkin beratus golongan terlahir dengan berbagai macam pandangan, berbagai macam pendapat bahkan berbagai macam kebijaksanaan dalam menjalankan syariat Islam akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan satu contoh ketika pesta demokrasi berlangsung saja, lebih dari satu partai mengatasnamakan Islam yang berazaskan Al Quran dan Al Hadits terlahir di Indonesia. Semua merasa paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih, tentunya itu yang dirasakan ketika akhirnya bukan Islam yang memegang andil penuh dalam pemerintahan ini. Kembali nasionalis berada di puncak kejayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku ...,&lt;br /&gt;Mari kita coba renungkan sebuah makna persatuan dalam Islam ini. Tidakkah ada secuil rasa keinginan dalam hati kita untuk bersama kembali, untuk bersama membangun ummat, bersama membangun asa dan cita kejayaan Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Alloh mengembalikan kita kembali satu dalam satu jalan menggapai keridloan-Nya. Aamiin ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wassalamu'alaykum wr wb.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/356542306917520361-5078027392637849689?l=saturindu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://saturindu.blogspot.com/feeds/5078027392637849689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=356542306917520361&amp;postID=5078027392637849689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/5078027392637849689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/356542306917520361/posts/default/5078027392637849689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://saturindu.blogspot.com/2007/12/semestinya-memang-kita-satu.html' title='Semestinya memang kita satu !'/><author><name>Dikdik Andhika Ramdhan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16683890806818001941</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_U4T5ZfBt-pQ/TTfHJKmlKUI/AAAAAAAAAFg/ZQR7fMHlShI/S220/dik2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_U4T5ZfBt-pQ/R2ikQlLEZ1I/AAAAAAAAABQ/KXN9p2VzwCs/s72-c/DSC03411.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
