Semestinya memang kita satu ! 20.50


Oleh : Dikdik Andhika Ramdhan



"Coba kita bayangkan seandainya Islam bersatu ...".

Sebuah kalimat yang membawa kita kepada harapan akan kembali bersatunya sebuah kekuatan menuju kejayaan Islam. Tidak ada perbedaan yang menjadikan perpecahan umat, tidak ada keributan yang hanya mempersoalkan cara beribadah yang berlainan ataupun tidak ada peng-klaim-an bahwa saya-lah yang paling benar dan paling betul dalam menjalankan agama ini.

"Tapi mungkinkah ?", wallahu'alam ...

Namun seandainya kita bercermin pada satu hal yang cukup menarik untuk kita perhatikan di sore kemarin (Selasa, 10 Juli 2007).

Ada satu hal yang membuat saya bangga, ketika satu waktu disaat yang sama bangsa Indonesia bersatu padu mendukung Tim Merah Putih di ajang Piala Asia 2007. Tidak ada para bobotoh yang mengeluk-elukkan Persib Bandung, tidak ada The Jak yang mengidolakan Persija Jakarta, semua bersatu ... hanya satu mendukung Indonesia.

Padahal jika melirik pada beberapa waktu terakhir, ketika kadang sepak bola hampir saja memecah belah persatuan bangsa. Kompetisi nasional Liga Indonesia yang mempertandingkan tim-tim sepak bola kebanggaan dari seluruh pelosok tanah air, telah menjadikan rasa memiliki yang berlebihan saat itu.

Semua meng-klaim bahwa tim kami-lah yang paling layak untuk berada di posisi sang jawara. Berbagai dukungan diberikan agar keinginan tim kebanggaannya dapat meraih kemenagan. Tidak jarang keributan terjadi ketika tidak seorang pun harus rela mengakui saat tim kebanggaan mereka itu kalah.

Ini menjadi sebuah renungan bagi kita, ummat Islam. Kita saksikan berpuluh, bahkan mungkin beratus golongan terlahir dengan berbagai macam pandangan, berbagai macam pendapat bahkan berbagai macam kebijaksanaan dalam menjalankan syariat Islam akhir-akhir ini.

Bahkan satu contoh ketika pesta demokrasi berlangsung saja, lebih dari satu partai mengatasnamakan Islam yang berazaskan Al Quran dan Al Hadits terlahir di Indonesia. Semua merasa paling benar.

Sedih, tentunya itu yang dirasakan ketika akhirnya bukan Islam yang memegang andil penuh dalam pemerintahan ini. Kembali nasionalis berada di puncak kejayaan.

Saudaraku ...,
Mari kita coba renungkan sebuah makna persatuan dalam Islam ini. Tidakkah ada secuil rasa keinginan dalam hati kita untuk bersama kembali, untuk bersama membangun ummat, bersama membangun asa dan cita kejayaan Islam?

Semoga Alloh mengembalikan kita kembali satu dalam satu jalan menggapai keridloan-Nya. Aamiin ...

Wassalamu'alaykum wr wb.

0 komentar: